Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Sabtu, 25 Januari 2014

Ayodya Lakshmidevi: CERITA ITU



CERITA ITU

Oleh: Ayodya Lakshmidevi

Trini termangu. Matanya memandang pesawat telepon hampir tak berkedip. Masih terngiang kata-kata seseorang bernama Susi dari majalah wanita "Cantik".

"Mbak Trini, selamat ya. Anda berhasil memenangkan lomba novel kami. Sesuai pengumuman kami Anda berhak mendapatkan hadiah dua setengah juta rupiah. Kami harap Mbak Trini bisa datang ke kantor kami untuk mengambil hadiah uang beserta piagam."

Dua setengah juta rupiah! Trini memejamkan mata. Jumlah uang itu sangat besar, karena ia belum pernah mendapatkan sebesar itu dengan keringatnya sendiri.  Apalagi ia tak pernah berharap apa-apa dengan cerita itu, bahkan kalau boleh jujur, ia tak ingin menang.  Bukan ia sombong atau tak percaya diri. Tetapi semata-mata karena cerita yang dikirimkannya itu adalah unek-unek perasaannya pada Mas Sigit. Apa jadinya kalau suaminya tahu?

Ia membiarkan air matanya mengalir. Sejak kejadian itu sekitar lima bulan lalu, hati kecilnya begitu yakin perkawinannya dengan Mas Sigit yang sudah berjalan sebelas tahun akan bubar. Meski suaminya bersumpah tidak akan berhubungan lagi dengan Dita, mantan pacarnya yang kini telah menjanda, ia tak mudah mempercayainya. Nalurinya begitu kuat. Mas Sigit pasti akan lari dalam pelukan Dita, terlebih lagi wanita itu memang sengaja menjeratnya.

Pada mulanya ia tak peduli saat Mas Sigit begitu bersemangat mengurusi acara reuni SMA-nya. Memang sudah sifat suaminya yang selalu tuntas menyelesaikan segala hal yang menjadi tugasnya. Jadi ketika Mas Sigit benar-benar mengurusi lustrum sekolahnya, ia tak curiga apa pun. Ia baru curiga ketika suaminya sering pulang larut malam dan hampir tak pernah lagi ada di rumah pada hari Sabtu. Ketika ia mendesaknya terus, sejak itulah rumah tangganya berubah bagai api dalam sekam. Suaminya tak ada perhatian lagi pada keluarga dan sering marah-marah.

Trini tak habis akal. Ia mencontoh cerita-cerita di sinetron dengan memata-matai suaminya. Hanya dalam empat hari ia bisa melihat sendiri bahwa suaminya selalu menemui Dita, kakak kelasnya dulu. Runtuhlah dunianya! Masih terngiang kata-kata Mas Sigit suatu ketika dulu, beberapa tahun silam.

"Kalau aku mau jujur, Tri, kadang-kadang aku masih sering bermimpi bertemu dengan Dita. Ceritanya hampir sama. Dia sedang menggapai-gapai ke arahku," ucap Mas Sigit.

"Jadi kau masih mencintai dia, 'kan?" sahut Trini ketus. Hatinya terasa sakit. Meski ia tak bisa memungkiri kenyataan suaminya yang berpacaran hampir lima tahun dengan teman sekelasnya itu, ia tetap tidak bisa menerima. Bukankah itu masa lalu?

"Bukan begitu. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa mimpi begitu. Padahal aku sudah lama sekali tidak bertemu dia." Mas Sigit menatapnya lekat-lekat. "Aku juga tidak pernah berpikir tentangnya, sejak kita menikah. Aku sudah bahagia hidup denganmu, Tri."

Trini menyusut air matanya. Lantas apa namanya kalau ternyata kau tak tahan rayuannya, Mas? bisik hatinya pedih. Lebih bahagiakah Mas Sigit setelah berhubungan kembali dengan Dita dan tetap mempunyai istri yang setia menunggu di rumah? Lalu, apa yang harus dilakukannya? Ia tahu pasti jawaban semua orang. Harus bertahan, sabar, dan jangan sampai 'melepas' suami pada wanita lain. Tapi bagaimana kalau Mas Sigit sudah sampai meniduri wanita itu? Ia merasa ikut kotor bila Mas Sigit masih menyentuhnya.

Trini bergidik. Saat ini ia lebih takut kalau Dita akan membaca ceritanya itu. Ia memang menjadikan hubungan suaminya dengan Dita sebagai tema ceritanya. Dan itu tidak tanggung-tanggung. Tokoh sentral cerita itu juga bernama Dita dan Sigit, sesuai aslinya. Yang membuatnya gundah, dalam cerita itu ia membuat tokoh Dita meninggal karena termakan tulahnya sendiri. Minuman beracun yang seharusnya diperuntukkan bagi istri Sigit tak sengaja tertukar oleh pembantunya. Mengetahui hal itu, Sigit bukannya tersadar betapa jahat pacarnya itu, ia malah memilih menceraikan istrinya karena menganggap seharusnya yang lebih pantas mati adalah istrinya. Ia dan Dita sudah punya sejuta angan-angan yang tinggal diwujudkan.

Trini meremas kedua tangannya yang terasa dingin. Ia begitu saja membuat cerita itu saat membaca lomba novel di majalah terkenal itu. Sama sekali ia tak bermimpi akan memenangkannya, karena ia hanya menjadikan lomba itu semata-mata untuk membuatnya semangat menulis. Padahal sudah lama sekali ia tak pernah menulis fiksi lagi. Ia tak mau membayangkan akhir sedih novel itu juga akan menimpanya. Ia hanya bisa berharap mudah-mudahan Mas Sigit tak lupa bahwa novelnya itu hanyalah fiksi.

Beberapa bulan berlalu tanpa ada perubahan dalam hubungan Trini dan suaminya. Ia selalu menahan diri untuk bersabar, meski melihat hati dan pikiran Mas Sigit lebih banyak melayang bila ia berada di rumah. Ia selalu menutup-nutupi tingkah laku suaminya pada Retha dan Yoga, kedua anak mereka. Majalah "Cantik" yang memuat novelnya secara bersambung disembunyikannya rapat-rapat. Ia tak berani membayangkan kemarahan Mas Sigit kalau sampai tahu kisah perselingkuhannya dibaca semua orang.

Hadiah yang dua setengah juta rupiah disimpannya hati-hati. Ia tak ingin membelanjakannya. Siapa tahu ia harus hidup berpisah dengan Mas Sigit dan uang itu akan dipakainya untuk mencicil membeli komputer sebagai modalnya menulis lagi. Perlahan-lahan rasa percaya dirinya tumbuh semakin kuat. Kemenangannya itu membawa hikmah sangat besar baginya. Seolah-olah ia sudah siap bila harus berpisah. Di hati kecilnya telah tumbuh keyakinan bisa menggantungkan hidup dengan menulis. Tak ada lagi yang perlu ditakuti.

Bunyi halus mobil Mas Sigit membangunkan tidurnya. Trini menatap jam dinding. Pukul setengah dua pagi. Ia tak merasa harus menyongsong kepulangan suaminya sejak hal itu menjadi kebiasaannya. Saat didengarnya pintu kamarnya dibuka, ia membalikkan badan membelakangi pintu dan kembali menutup mata.

Hingga beberapa lama tak terdengar suara apa pun. Kenapa Mas Sigit tidak berganti pakaian atau tidur? Ia juga tidak menyalakan lampu kamar, dan bahkan tidak ke kamar mandi seperti kebiasaannya. Trini menjadi resah. Perlahan-lahan ia membalikkan tubuh dan melihat suaminya duduk termenung di kursi rias. Menyadari dirinya terbangun, Mas Sigit mengangkat wajah dan menatapnya. Dalam keremangan kamar yang hanya mendapat sinar dari lampu teras, Trini tak bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Ia bahkan tak memperhatikan suaminya memegang sebuah majalah "Cantik" yang memuat novelnya.

Mereka bertatapan dalam keheningan. Hanya dengung air conditioner yang hadir.

Hati Trini tercekat. Inikah saat menentukan dalam kehidupannya? Bahwa Mas Sigit akhirnya akan menceraikannya? Ia membuang tatapan dan menahan gejolak dada. Ia tak boleh terlihat lemah di mata suaminya.

Mas Sigit bangkit dan duduk di sebelahnya. Ia masih belum bersuara.

"Tri....," panggilnya. Trini tak menoleh. Mas Sigit mengulanginya.

Trini menoleh karena menangkap getaran dalam suara itu. Ia tetap tak bisa melihat ekspresi suaminya karena Mas Sigit duduk membelakangi cahaya.

Mas Sigit menyerahkan majalah yang sejak tadi dipegangnya. Trini hanya melihat sekilas, lantas menatap suaminya lagi. Ia bisa merasakan deburan jantungnya yang seolah merobek baju tidurnya yang tipis.

"Aku telah membaca ceritamu. Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau memenangkan lomba itu?" Suara Mas Sigit terdengar datar.

Trini tak menyahuti. Apa yang harus dikatakannya?

"Ceritamu bagus," lanjut Mas Sigit. "Aku pikir aku berhak mendapatkan sebagian hadiahnya karena kau memakai dasar ceritaku, meskipun sebagian besar salah besar."

Trini merasa tiba-tiba berkeringat.

"Aku bukan seperti cerita yang kau tulis, Tri." Tiba-tiba Mas Sigit mencengkeram pundaknya dan menariknya dalam pelukan. "Maafkan aku, Tri. Aku sama sekali bukan seperti yang tokoh yang kau tulis. Memang aku telah khilaf, tapi aku tak mau kehilanganmu dan anak-anak. Aku sangat mencintaimu, Tri."

Mas Sigit menangis. Trini bisa merasakan dalam pelukannya. Ia membiarkan air matanya membanjiri pipinya. Ia tak menyangka akan mengalami kejadian anti klimaks seperti ini.

"Aku kotor, Tri. Aku tak tahu apakah kau akan......"

"Shshhshhh...." Trini tak membiarkan kalimat itu. Kedua tangannya memeluk tubuh Mas Sigit erat-erat. Ia tak hendak melepaskannya.

"Maafkan aku, Tri," gumam Mas Sigit tak jelas, tertelan tangisnya.

Trini hanya bisa mengangguk. Ia tak perlu mengatakan apa-apa atau memikirkan sakit hatinya lagi. Kejadian ini akan ditutupnya rapat-rapat, karena ia percaya kata-kata Mas Sigit. Cerita itu telah mengembalikan suaminya.


***