CERITA ITU
Oleh: Ayodya Lakshmidevi
Trini termangu. Matanya memandang pesawat
telepon hampir tak berkedip. Masih terngiang kata-kata seseorang bernama Susi
dari majalah wanita "Cantik".
"Mbak Trini, selamat ya. Anda berhasil
memenangkan lomba novel kami. Sesuai pengumuman kami Anda berhak mendapatkan
hadiah dua setengah juta rupiah. Kami harap Mbak Trini bisa datang ke kantor
kami untuk mengambil hadiah uang beserta piagam."
Dua setengah juta rupiah! Trini memejamkan
mata. Jumlah uang itu sangat besar, karena ia belum pernah mendapatkan sebesar
itu dengan keringatnya sendiri. Apalagi
ia tak pernah berharap apa-apa dengan cerita itu, bahkan kalau boleh jujur, ia
tak ingin menang. Bukan ia sombong atau
tak percaya diri. Tetapi semata-mata karena cerita yang dikirimkannya itu
adalah unek-unek perasaannya pada Mas Sigit. Apa jadinya kalau suaminya tahu?
Ia membiarkan air matanya mengalir. Sejak
kejadian itu sekitar lima bulan lalu, hati kecilnya begitu yakin perkawinannya
dengan Mas Sigit yang sudah berjalan sebelas tahun akan bubar. Meski suaminya
bersumpah tidak akan berhubungan lagi dengan Dita, mantan pacarnya yang kini
telah menjanda, ia tak mudah mempercayainya. Nalurinya begitu kuat. Mas Sigit
pasti akan lari dalam pelukan Dita, terlebih lagi wanita itu memang sengaja
menjeratnya.
Pada mulanya ia tak peduli saat Mas Sigit
begitu bersemangat mengurusi acara reuni SMA-nya. Memang sudah sifat suaminya
yang selalu tuntas menyelesaikan segala hal yang menjadi tugasnya. Jadi ketika
Mas Sigit benar-benar mengurusi lustrum sekolahnya, ia tak curiga apa
pun. Ia baru curiga ketika suaminya sering pulang larut malam dan hampir tak
pernah lagi ada di rumah pada hari Sabtu. Ketika ia mendesaknya terus, sejak
itulah rumah tangganya berubah bagai api dalam sekam. Suaminya tak ada perhatian
lagi pada keluarga dan sering marah-marah.
Trini tak habis akal. Ia mencontoh
cerita-cerita di sinetron dengan memata-matai suaminya. Hanya dalam empat hari
ia bisa melihat sendiri bahwa suaminya selalu menemui Dita, kakak kelasnya
dulu. Runtuhlah dunianya! Masih terngiang kata-kata Mas Sigit suatu ketika
dulu, beberapa tahun silam.
"Kalau aku mau jujur, Tri, kadang-kadang
aku masih sering bermimpi bertemu dengan Dita. Ceritanya hampir sama. Dia
sedang menggapai-gapai ke arahku," ucap Mas Sigit.
"Jadi kau masih mencintai dia,
'kan?" sahut Trini ketus. Hatinya terasa sakit. Meski ia tak bisa
memungkiri kenyataan suaminya yang berpacaran hampir lima tahun dengan teman
sekelasnya itu, ia tetap tidak bisa menerima. Bukankah itu masa lalu?
"Bukan begitu. Aku sendiri tidak tahu
kenapa bisa mimpi begitu. Padahal aku sudah lama sekali tidak bertemu
dia." Mas Sigit menatapnya lekat-lekat. "Aku juga tidak pernah
berpikir tentangnya, sejak kita menikah. Aku sudah bahagia hidup denganmu, Tri."
Trini menyusut air matanya. Lantas apa
namanya kalau ternyata kau tak tahan rayuannya, Mas? bisik hatinya pedih. Lebih
bahagiakah Mas Sigit setelah berhubungan kembali dengan Dita dan tetap
mempunyai istri yang setia menunggu di rumah? Lalu, apa yang harus dilakukannya?
Ia tahu pasti jawaban semua orang. Harus bertahan, sabar, dan jangan sampai
'melepas' suami pada wanita lain. Tapi bagaimana kalau Mas Sigit sudah sampai
meniduri wanita itu? Ia merasa ikut kotor bila Mas Sigit masih menyentuhnya.
Trini bergidik. Saat ini ia lebih takut kalau
Dita akan membaca ceritanya itu. Ia memang menjadikan hubungan suaminya dengan
Dita sebagai tema ceritanya. Dan itu tidak tanggung-tanggung. Tokoh sentral
cerita itu juga bernama Dita dan Sigit, sesuai aslinya. Yang membuatnya gundah,
dalam cerita itu ia membuat tokoh Dita meninggal karena termakan tulahnya
sendiri. Minuman beracun yang seharusnya diperuntukkan bagi istri Sigit tak
sengaja tertukar oleh pembantunya. Mengetahui hal itu, Sigit bukannya tersadar
betapa jahat pacarnya itu, ia malah memilih menceraikan istrinya karena
menganggap seharusnya yang lebih pantas mati adalah istrinya. Ia dan Dita sudah
punya sejuta angan-angan yang tinggal diwujudkan.
Trini meremas kedua tangannya yang terasa
dingin. Ia begitu saja membuat cerita itu saat membaca lomba novel di majalah
terkenal itu. Sama sekali ia tak bermimpi akan memenangkannya, karena ia hanya
menjadikan lomba itu semata-mata untuk membuatnya semangat menulis. Padahal
sudah lama sekali ia tak pernah menulis fiksi lagi. Ia tak mau membayangkan
akhir sedih novel itu juga akan menimpanya. Ia hanya bisa berharap
mudah-mudahan Mas Sigit tak lupa bahwa novelnya itu hanyalah fiksi.
Beberapa bulan berlalu tanpa ada perubahan
dalam hubungan Trini dan suaminya. Ia selalu menahan diri untuk bersabar, meski
melihat hati dan pikiran Mas Sigit lebih banyak melayang bila ia berada di
rumah. Ia selalu menutup-nutupi tingkah laku suaminya pada Retha dan Yoga,
kedua anak mereka. Majalah "Cantik" yang memuat novelnya secara
bersambung disembunyikannya rapat-rapat. Ia tak berani membayangkan kemarahan
Mas Sigit kalau sampai tahu kisah perselingkuhannya dibaca semua orang.
Hadiah yang dua setengah juta rupiah
disimpannya hati-hati. Ia tak ingin membelanjakannya. Siapa tahu ia harus hidup
berpisah dengan Mas Sigit dan uang itu akan dipakainya untuk mencicil membeli
komputer sebagai modalnya menulis lagi. Perlahan-lahan rasa percaya dirinya
tumbuh semakin kuat. Kemenangannya itu membawa hikmah sangat besar baginya.
Seolah-olah ia sudah siap bila harus berpisah. Di hati kecilnya telah tumbuh
keyakinan bisa menggantungkan hidup dengan menulis. Tak ada lagi yang perlu
ditakuti.
Bunyi halus mobil Mas Sigit membangunkan
tidurnya. Trini menatap jam dinding. Pukul setengah dua pagi. Ia tak merasa
harus menyongsong kepulangan suaminya sejak hal itu menjadi kebiasaannya. Saat
didengarnya pintu kamarnya dibuka, ia membalikkan badan membelakangi pintu dan
kembali menutup mata.
Hingga beberapa lama tak terdengar suara apa
pun. Kenapa Mas Sigit tidak berganti pakaian atau tidur? Ia juga tidak
menyalakan lampu kamar, dan bahkan tidak ke kamar mandi seperti kebiasaannya.
Trini menjadi resah. Perlahan-lahan ia membalikkan tubuh dan melihat suaminya
duduk termenung di kursi rias. Menyadari dirinya terbangun, Mas Sigit
mengangkat wajah dan menatapnya. Dalam keremangan kamar yang hanya mendapat
sinar dari lampu teras, Trini tak bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Ia
bahkan tak memperhatikan suaminya memegang sebuah majalah "Cantik"
yang memuat novelnya.
Mereka bertatapan dalam keheningan. Hanya
dengung air conditioner yang hadir.
Hati Trini tercekat. Inikah saat menentukan
dalam kehidupannya? Bahwa Mas Sigit akhirnya akan menceraikannya? Ia membuang
tatapan dan menahan gejolak dada. Ia tak boleh terlihat lemah di mata suaminya.
Mas Sigit bangkit dan duduk di sebelahnya. Ia
masih belum bersuara.
"Tri....," panggilnya. Trini tak
menoleh. Mas Sigit mengulanginya.
Trini menoleh karena menangkap getaran dalam
suara itu. Ia tetap tak bisa melihat ekspresi suaminya karena Mas Sigit duduk
membelakangi cahaya.
Mas Sigit menyerahkan majalah yang sejak tadi
dipegangnya. Trini hanya melihat sekilas, lantas menatap suaminya lagi. Ia bisa
merasakan deburan jantungnya yang seolah merobek baju tidurnya yang tipis.
"Aku telah membaca ceritamu. Kenapa kau
tak pernah bilang kalau kau memenangkan lomba itu?" Suara Mas Sigit
terdengar datar.
Trini tak menyahuti. Apa yang harus
dikatakannya?
"Ceritamu bagus," lanjut Mas Sigit.
"Aku pikir aku berhak mendapatkan sebagian hadiahnya karena kau memakai
dasar ceritaku, meskipun sebagian besar salah besar."
Trini merasa tiba-tiba berkeringat.
"Aku bukan seperti cerita yang kau
tulis, Tri." Tiba-tiba Mas Sigit mencengkeram pundaknya dan menariknya
dalam pelukan. "Maafkan aku, Tri. Aku sama sekali bukan seperti yang tokoh
yang kau tulis. Memang aku telah khilaf, tapi aku tak mau kehilanganmu dan
anak-anak. Aku sangat mencintaimu, Tri."
Mas Sigit menangis. Trini bisa merasakan
dalam pelukannya. Ia membiarkan air matanya membanjiri pipinya. Ia tak
menyangka akan mengalami kejadian anti klimaks seperti ini.
"Aku kotor, Tri. Aku tak tahu apakah kau
akan......"
"Shshhshhh...." Trini tak
membiarkan kalimat itu. Kedua tangannya memeluk tubuh Mas Sigit erat-erat. Ia
tak hendak melepaskannya.
"Maafkan aku, Tri," gumam Mas Sigit
tak jelas, tertelan tangisnya.
Trini hanya bisa mengangguk. Ia tak perlu
mengatakan apa-apa atau memikirkan sakit hatinya lagi. Kejadian ini akan
ditutupnya rapat-rapat, karena ia percaya kata-kata Mas Sigit. Cerita itu telah
mengembalikan suaminya.
***
