Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Rabu, 26 Maret 2014

Ayodya Lakshmidevi: CENAYANG, PARANORMAL




CENAYANG
KEMAMPUAN PSIKIS TAK MUNGKIN DITEKAN

oleh: 
Ayodya Lakshmidevi

          Telepon berdering dengan nyaring. Sebelum kita mendengar suara di seberang sana, kita sudah bisa menebak siapa orang tersebut. Pengalaman itu kadangkala kita alami secara tidak sengaja dan tidak bisa dimengerti apa sebabnya, kecuali menganggap ‘untung-untungan’. Kemampuan serupa itu sebenarnya ada pada setiap orang, tetapi seringkali kita takut mengakuinya karena tidak memahami bagaimana kemampuan itu bisa muncul. Yang pasti kemampuan itu berhubungan dengan kekuatan psikis.
          Kata psikis, atau psychic, berasal dari bahasa Yunani ‘psychikos’,  yang berarti ‘jiwa’, ‘rohani’, atau ‘spiritual’. istilah psychic juga ditujukan bagi orang yang peka terhadap kekuatan-kekuatan di luar dunia fisik. Kita sering mengartikannya sebagai ‘paranormal’ atau ‘cenayang’.
          Kemampuan psikis dikenal sebagai extrasensory perception (ESP) yang memberikan pengalaman psikis secara pribadi. Ada seseorang bermimpi melihat kawan dekatnya terbujur kaku di dalam peti mayat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia diberi tahu bahwa kawan dekatnya itu telah meninggal. Kemampuan itu sesunguhnya adalah bagian dari ESP yang disebut precognition, atau kesadaran sebelumnya, atau bisa juga berupa telepati, yakni komunikasi antarpikiran. Bagian ESP lainnya adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak tampak, yang disebut clairvoyance.
          Munculnya ESP pada seseorang kadang-kadang sama misteriusnya dengan caranya masuk yang diteruskan ke alam bawah sadar. Namun, untuk membuktikan adanya kemampuan psikis tersebut agaknya sulit. Itu sebabnya kemampuan itu merupakan kesadaran paranormal (di atas normal), yakni di luar hukum-hukum alam yang berlaku.

Dari Dalam dan Luar Jiwa

          Entah sejak kapan persisnya ESP itu mulai ada dalam sejarah manusia. Namun, sudah sejak berabad-abad lalu ada laporan tentang itu, misalnya gambaran tentang peperangan yang terjadi jauh di masa silam, pertanda tentang sesuatu yang bakal terjadi, atau peristiwa yang aneh dan muncul dengan tiba-tiba. Salah satu yang terkenal adalah precognition atau ramalan Nostradamus tentang Revolusi Perancis yang sangat terkenal.
          Pada masa itu bayangan atau ramalan seperti itu tidak bisa diterima, bahkan seseorang yang memiliki kemampuan itu bisa dianggap ‘gila’. Padahal untuk menganggap sepi kemampuan atau kesadaran itu juga tidak bisa, karena pada zaman Mesir kuno ilmu spiritual sudah banyak diminati. Bahkan pemikir kuno Aristoteles dan Demokritus pun --lebih dari dua ribu tahun lalu-- sudah berusaha menyelidiki apakah gejala psikis itu.
          Meski kemampuan memperoleh bayangan seperti itu terus ditekan, namun diam-diam berkembang terus dalam masyarakat, terutama yang mempercayainya. Sekitar pertengahan abad XVII barulah ilmu pengetahuan moderen mulai mendapat perhatian. Terutama oleh Swedenborg yang pandai dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan keduniawian. Dia pulalah orang pertama yang mengajukan pikiran bahwa seperti halnya dunia fisik ini, ‘dunia lain’ pun tunduk kepada hukum-hukum alam.
          Pada tahun 1848 spiritualisme ‘lahir’ di Amerika. Namun, pendalaman gejala psikis ini baru mendapat kemajuan melalui riset yang dilakukan oleh Henry Sidgwick pada tahun 1860, lima tahun setelah ia kuliah di Trinity College, Cambridge, tempat ia belajar sastra klasik dan matematika. Di sana ia mendapat partnerFrederick Myers, seorang muridnya di bidang yang sama. Mereka tertarik mempelajari tujuan jiwa manusia. Bersama dengan tokoh Cambridge lainnya, Edmund Gurney, yang juga ahli sastra klasik ternama dan mempunyai bakat alamiah dalam percobaan psikologis, terutama dalam hipnose (keadaan seperti tidur yang ditimbulkan oleh kekuatan hipnotis), ketiganya akhirnya menjadi ‘pusat’ bagi penelitian psikis. Belakangan mereka mendapat tambahan dukungan, antara lain Lord RayleighArthur Balfour (kelak menjadi PM Inggris) bersama saudaranya Gerald Balfour dan Eleanor BalfourWilliam Barret (profesor ilmu fisika di Dublin), dan Stainton Moses (pendeta dan ahli spiritual).
          Kesuksesan Sir William Barret dalam beberapa percobaan ‘pemindahan pikiran’ di Dublin mendorong dirinya untuk mengadakan konperensi, sekaligus membangkitkan kembali perhatian Sidgwick yang telah mulai surut akibat pengalaman yang menyedihkan dan mengecewakan dalam percobaan-percobaannya. Dalam konperensi tersebut dibentuk organisasi yang dinamakan Lembaga Riset Psikis (Society for Psychical Research), yang kemudian terkenal dengan nama singkatannya, yakni SPR. Sidgwick terpilih sebagai ketuanya.
          Di antara hal-hal yang ditangani SPR adalah penyelidikan terhadap sifat dan luas pengaruh yang dapat dilakukan pikiran seseorang kepada orang lain, terlepas dari cara dan jalan persepsi yang dikenal umum. Selain itu, mempelajari hipnotisme dan bentuk-bentuk dari apa yang dinamakan ketidaksadaran hipnotis yang diduga menimbulkan kekebalan terhadap rasa sakit, selain masalah ramalan dan gejala-gejala lain yang ada hubungannya dengan itu. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana saja, yakni “Apakah kemampuan psikis memang ada?”
          Kemampuan psikis muncul dengan cara bermacam-macam dan aneh. ‘Tanda-tanda’ atau ‘bayangan’ muncul ke atas permukaan kesadaran dari bawah sadar. Semua tanda tersebut bisa berasal dari dalam maupun luar jiwa, mengambang memasuki alam sadar, baik secara langsung, tersembunyi ataupun dengan jalan tak langsung, atau bersifat simbolis.
          Belakangan, kemampuan untuk itu ternyata bisa dipelajari, bahkan digunakan untuk penyembuhan, baik penyakit fisik maupun rohani, meski kadar keberhasilannya mungkin tak sama bagi setiap orang. Saat ini mulai banyak buku-buku yang bisa menuntun kita mendalami hal tersebut. Tak dibutuhkan inteligensi atau kepekaan, selain kemauan untuk membuka diri.


***

Senin, 10 Maret 2014

Ayodya Lakshmidevi: Active Fathering, Mengapa Tidak?



Active Fathering, 
Mengapa Tidak?
oleh: Ayodya Lakshmidevi


Seorang bayi yang menginjak usia enam bulan sudah bisa meraih mainannya di lantai. Kadang si kecil akan berusaha lebih keras lagi untuk lebih dekat dengan mainannya yang lain. Melihat itu, naluri ibu yang muncul pertama kali adalah memindahkan mainannya agar lebih mudah dijangkau si kecil. Sedangkan sang ayah akan membiarkan si kecil terus berusaha sendiri agar bisa meraih mainannya. Pada saat itu ibu akan berpikir mungkin si kecil akan menjadi frustrasi dan perlu dibantu. Tetapi lain halnya dengan sang ayah yang berpikir, si kecil harus bisa berusaha sendiri dan belajar dari usaha yang dilakukan, walau hasil akhirnya bisa baik ataupun tidak.

Ilustrasi seperti itu banyak dilakukan oleh sebagian orangtua. Menurut Anda, mana yang lebih baik? Cara ayah atau cara ibu? Sebenarnya Anda tidak perlu memilih mana yang lebih baik. Karena dari hasil riset menunjukkan bahwa anak akan belajar dengan baik sesuai cara orangtua mendidik mereka, walau dengan cara berbeda. Kadang ayah dan ibu memberikan cara berbeda saat memberikan perhatian dan kasih sayang. Perbedaan tersebut tidak akan membuat bayi merasa bingung. Justru dengan perbedaan itu, mereka bisa belajar bahwa mereka bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang berbeda pula. Walau cara ayah dan ibu cukup berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan, yaitu mereka akan menyayangi bayi-bayinya secara emosional dan juga memberikan kebutuhan fisik yang bayi butuhkan.

Anak-anak yang sering terlibat dengan ayah seringkali memiliki bagian-bagian perkembangan tertentu yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang terlibat dengan ayah. Mereka menjadi lebih pandai dalam hal pemecahan masalah dan bisa mengatasi rasa frustrasi, memiliki kemampuan bersosialisasi lebih baik, lebih mudah memahami perasaan orang lain, dan mudah bergaul dengan beragam individu. Peran ayah yang aktif juga berperan dalam menumbuhkan sifat humoris anak, perhatian dan keinginan besar untuk bereksplorasi dan belajar.

Peran ayah
Walau ayah dan ibu sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar merawat atau mengasihi anak-anaknya, namun biasanya sang ibu adalah pemegang peran yang lebih utama. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain:

# Pria, seringkali kurang berpengalaman dengan anak-anak, ketimbang wanita. Dalam masyarakat, wanita berlatih cara merawat anak seiring dengan kehidupan, seperti layaknya merawat adiknya saat masih kecil. Sedangkan anak atau remaja laki-laki seringkali tidak memiliki kesempatan itu. Itu sebabnya, ada beberapa pria yang sering merasa tak nyaman dengan masalah tersebut atau kurang terampil dalam hal merawat anak-anak.

# Pria cenderung tidak merasakan tekanan sosial layaknya wanita saat belajar merawat anak-anak mereka sendiri. Jadi, mereka sering mencari bantuan dari kerabat keluarga, teman dan sumber-sumber lainnya agar keterampilan parenting mereka bertambah.

# Karena wanita lebih banyak terlibat dalam parenting, maka mereka akan semakin mahir dan mungkin akan menyadari bahwa sang ayah tidak kompeten dalam hal yang sama. Jika hal ini terjadi, pola tertentu akan mulai terbentuk, sehingga sang ibu akan melakukan hal yang lebih banyak, belajar lebih banyak, merasa lebih yakin, dan merasa bertanggungjawab secara kontinyu terhadap anak-anaknya. Sedangkan sang ayah dalam kondisi ini akan belajar lebih sedikit dan merasa kurang mampu untuk merawat anak-anaknya setiap hari. Bila pola tersebut semakin menguat, sang ibu akan merasa terbebani, ayah akan merasa tidak ‘dianggap’ dan anak-anak pun akan kehilangan kasih sayang dari dua orang yang mereka sayangi.

# Berbagai realita sosioekonomi bisa membuat peran ayah menjadi tantangan tertentu. Dalam orang tua tunggal (single-parent) dan orang tua yang bercerai, banyak ayah yang tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya. Sedangkan dalam keluarga lainnya, wanita dan pria seringkali dihadapi berbagai tekanan baik dari ekonomi, beban pekerjaan yang seringkali mengganggu jadwal kebutuhan anak-anak mereka. Sedangkan bagi sebagian besar pria, situasi kehidupan seperti ini sering membuat mereka semakin sulit untuk menghabiskan waktunya bersama anak-anak.

Yang terbaik untuk keluarga
Walau sang ayah mengalami banyak tantangan dalam hal perawatan anak-anaknya, hal ini sebenarnya bisa diatasi, dibantu dan didukung pasangannya. Ada banyak cara agar ayah dan ibu bisa berbagi, bekerjasama, dan menjadi orangtua efektif dalam merawat dan mendidik anak-anak. Coba ikuti beberapa tips di bawah ini, agar Anda bisa siap berbagi tugas.

# Libatkan ayah sambil belajar melakukannya (learn by doing). Keterampilan parenting bisa diperoleh sambil melakukannya, dan mungkin pria akan merasa malu atau kurang kesempatan agar bisa berpengalaman dalam hal ini. Seawal mungkin ayah memulai dan sebanyak mungkin hal yang bisa dikerjakan, maka lambat laun akan membuat ayah semakin merasa nyaman dan kompeten. Memang pertama kalinya, Anda akan merasa kurang kompeten, tetapi dengan berjalannya waktu, bayi pun bisa menjadi guru Anda.

# Pria maupun wanita bisa menjadi orangtua yang efektif dalam berbagai hal. Baik perbedaan maupun persamaan antara kedua orangtua sangat bermanfaat bagi anak. Anda perlu ingat bahwa ada berbagai cara membesarkan anak dan bagaimana cara agar anak Anda pun bisa merasakan manfaatnya.

# Setiap orangtua memerlukan kesempatan atau waktu untuk mengembangkan jalinan kasih sayang dengan anak-anaknya. Sebagian besar orangtua akan belajar ‘seni’nya menjadi orangtua lebih baik saat sedang mandiri atau tidak memiliki siapa pun untuk merawat. Luangkan waktu bersama bayi, jaga agar bisa meminimalisasi berbagai bentuk instruksi, dan percaya pada pasangan untuk belajar sambil bekerja.

# Menjaga hubungan dengan pasangan agar tetap kompak. Riset menunjukkan bahwa pasangan suami isteri yang kompak dapat membantu keterlibatan peran ayah.

#####