ANAK SULIT
MAKAN, IBU PENYEBABNYA?
Oleh: Ayodya Lakshmidevi
Anak sulit makan? Hal itu umum
dialami anak-anak, terutama berusia 2-4 tahun. Padahal justru pada usia balita
yang merupakan
golden period anak membutuhkan gizi seimbang untuk menunjang tumbuh
kembangnya. Para ibu sebaiknya berhati-hatilah dengan sikap Anda.
Mungkin Anda akan mencari-cari
penyebabnya, dan tak jarang mencari ‘kambing hitam’ dari masalah itu. Ternyata,
dalam praktik sehari-hari, dokter anak sering mendapat pertanyaan dan keluhan
dari para orangtua. Menurut dokter anak, keluhan yang sering muncul adalah:
- makanan
tidak mau ditelan, ditahan saja di dalam mulut, bahkan dikeluarkan lagi;
- menunjukkan
perilaku penolakan atau melawan pada waktu makan;
- hanya
mau makan jenis makanan tertentu saja, misalnya hanya mau minum susu saja,
tidak mau makan nasi;
- cepat
bosan terhadap makanan yang diberikan.
Tidak sedikit orangtua memilih
vitamin perangsang nafsu makan untuk anak-anak atau multivitamin untuk menambah
vitamin dan mineral karena anak tidak suka makan.
Padahal tidak seluruhnya
kesulitan makan itu disebabkan oleh faktor ‘luar’ saja. Rupanya sikap ibu pun
bisa mempengaruhi. “Seorang anak bahkan bisa sulit makan sejak ia bayi. Salah
satunya adalah karena sikap ibunya. Kadang-kadang ada anak umur enam bulan
sudah bisa memegang sendok sendiri, tetapi ibunya tidak sabar dan langsung
mengambil alih, tidak memberi kesempatan pada anak. Padahal biarkan dia belajar
dari awal dengan diberi tanggung jawab. Umur 10 bulan anak sudah bisa
memasukkan sendiri makanan ke mulutnya. Dengan dilatih akan timbul perasaan
ingin mencoba makan sendiri.”
Suka atau tidak suka
Pada dasarnya faktor-faktor
penyebab kesulitan makan dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yakni faktor
nutrisi, faktor penyakit atau kelainan organik, serta faktor gangguan atau
kelainan kejiwaan.
Faktor nutrisi merupakan penyebab
kesulitan makan pada umumnya. Pada masa bayi, masalah kesulitan makan terutama
bersifat mekanis, berkaitan dengan keterampilan makan, yakni menyusu ASI atau
menghisap susu botol. Hal itu dapat disebabkan oleh kekurangan dalam aspek
pembinaan atau pendidikan makan.
“Penyebabnya banyak,” jelas seorang
dokter “Seperti manajemen pemberian ASI yang kurang benar; atau usia saat anak
diberi atau diperkenalkan makanan tambahan kurang tepat, mungkin terlalu dini
atau terlalu lambat. Bisa juga karena jadwal pemberian makan kurang luwes atau
terlalu ketat, kurang sesuai dengan keadaan lapar atau haus anak yang berkaitan
dengan keadaan pengosongan lambung.”
Hal lain yang sering terjadi
adalah cara pemberian makanan yang kurang tepat, misalnya ibu terlalu
memaksakan saat menyuapi anaknya, kurang lemah lembut, atau kurang membujuk
atau merayu. Akibatnya si kecil menjadi frustasi, sehingga cenderung bersikap
‘lebih baik’ melawan daripada makan. Selan itu, masih terdapat faktor suka atau
tidak suka yang bersifat individual pada anak terhadap jenis-jenis makanan
tertentu.
“Perlu disadari, kebiasaan makan
yang terbentuk dalam dua tahun pertama kehidupan anak akan berpengaruh nyata
atas kebiasaan makan pada tahun-tahun berikutnya. Kesulitan makan yang timbul
pada usia 2-4 tahun kerapkali terjadi sebagai akibat paksaan orangtua yang
berlebihan untuk makan, yang kemudian disertai kecemasan berlebihan kalau anak
tidak memenuhi keinginan sepihak orangtua. Akibatnya, anak menunjukkan reaksi
negatif. Kalau sudah begitu, diperlukan perbaikan hubungan orangtua dan anak.”
Faktor-faktor lain yang
mengganggu makan adalah terlalu banyaknya kekacauan yang terjadi saat makan,
atau waktu yang terlalu pendek pada pihak orangtua maupun pada anak. Bisa juga
makanan yang dihidangkan kurang menarik selera makan anak.
“Saat-saat makan sebaiknya
merupakan waktu yang menyenangkan dan membahagiakan, disertai percakapan yang
menarik bagi semua yang hadir. Selera makan anak itu harus dihormati. Kalau
pada suatu saat keinginan makannya di bawah rata-rata hendaknya jangan sampai
ada paksaan agar ia makan lebih banyak lagi. Orangtua harus menyadari bahwa
kebiasaan makan dapat diajarkan dengan memberi contoh dibandingkan hanya
nasihat saja,” papar dokter lebih lanjut.
Faktor penyakit atau kelainan
organik juga perlu diketahui orangtua, karena pada umumnya akan disertai dengan
kesulitan makan. Yakni berkaitan dengan alat pencernaan makan, khususnya
unsur-unsur dalam rongga mulut, bibir, gigi geligi, langit-langit, lidah dan
tenggorokan, sistem saraf otak, sistem hormonal (endokrin) dan enzim-enzim yang
berkaitan dengan penerimaan makanan, maupun proses metabolisme tubuh.
Sedangkan faktor gangguan atau
kelainan kejiwaan (psikologis) pada sikap makan sebagai akibat distorsi dalam
hubungan interaksi pemberian makan, misalnya penolakan makanan atau nafsu makan
yang berkurang (anoreksia). “Anoreksia nervosa biasanya terdapat pada
gadis-gadis remaja karena mereka ingin memiliki tubuh yang langsing,”
Malnutrisi
Keadaan sulit makan pada
anak-anak biasanya tidak sampai menimbulkan dampak berarti bagi kesehatan
maupun tumbuh kembang anak, termasuk kepintarannya. Namun, bila kesulitan makan
yang berat berlangsung lama bisa berdampak negatif. Jika jumlah masukan makanan
sebagai sumber energi dan protein berkurang dalam jangka waktu lama akan
terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi muda, yang disebut
gagal tumbuh (failure to thrive). Sedangkan pada bayi yang lebih tua
atau anak balita terjadi penyakit Kekurangan Kalori Protein (KKP).
“Anak
yang kekurangan kalori tubuhnya akan kurus. Di daerah-daerah tertentu ada pola
makan yang salah, misalnya kebanyakan karbohidrat, proteinnya kurang. Jadi,
meski anak gemuk tetap kurang gizi, karena komposisi makanan yang salah.
Contohnya, di daerah-daerah tertentu anak hanya diberi makan nasi tumbuk dengan
protein rendah.”
Kalau anak terus sulit makan
sehingga akhirnya mengalami kekurangan gizi, dikhawatirkan tubuhnya tidak bisa
lagi mengatasi dan bisa menjadi malnutrisi. “Tetapi kalau kekurangannya hanya
sebentar-sebentar masih bisa diatasi, sehingga tidak terjadi malnutrisi.”
Untuk mengatasi anak sulit makan,
banyak dokter menganjurkan untuk memberikan kalori tinggi asalkan dari
komposisi seimbang antara karbohidrat (60 %), protein (25-30 %), dan sisanya
lemak. “Tetapi biasanya yang lebih tahu hal itu memang ahli gizi,” ujarnya.
“Dengan kandungan makanan sehari-hari, seperti tahu, tempe, telor, sayuran,
sudah cukup. Masalahnya adalah cara mengolah makanan agar anak berselera. Semua
itu ‘kan berkaitan dengan taste. Contohnya, snack anak yang taste-nya
tajam ataupun mi instan. Jadi, jangan sampai makanan anak rasanya kalah dengan snack
atau mi instan.”
Dokter menyarankan, “Sebaiknya
orangtua memahami masalah itu. Kadang-kadang orangtua yang kaya tapi sibuk,
anaknya malah malnutrisi karena anaknya tidak terurus. Anak hanya sekadar
makan, sedangkan beberapa kandungan vitamin mineral tidak tercakup. Jadi,
buatlah suasana makan senyaman mungkin, sehingga menyenangkan bagi anak. Dan,
memang itu perlu waktu.”
Saran dokter itu tidak salah
untuk dicoba, terutama bila anak Anda sedang mengalami sulit makan.
#####
