Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Sabtu, 05 April 2014

Ayodya Lakshmidevi: Anak Sulit Makan, Ibu Penyebabnya?



ANAK SULIT MAKAN, IBU PENYEBABNYA?
Oleh: Ayodya Lakshmidevi

Anak sulit makan? Hal itu umum dialami anak-anak, terutama berusia 2-4 tahun. Padahal justru pada usia balita yang merupakan golden period anak membutuhkan gizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya. Para ibu sebaiknya berhati-hatilah dengan sikap Anda.

Mungkin Anda akan mencari-cari penyebabnya, dan tak jarang mencari ‘kambing hitam’ dari masalah itu. Ternyata, dalam praktik sehari-hari, dokter anak sering mendapat pertanyaan dan keluhan dari para orangtua. Menurut dokter anak, keluhan yang sering muncul adalah:

  • makanan tidak mau ditelan, ditahan saja di dalam mulut, bahkan dikeluarkan lagi;
  • menunjukkan perilaku penolakan atau melawan pada waktu makan;
  • hanya mau makan jenis makanan tertentu saja, misalnya hanya mau minum susu saja, tidak mau makan nasi;
  • cepat bosan terhadap makanan yang diberikan.
Tidak sedikit orangtua memilih vitamin perangsang nafsu makan untuk anak-anak atau multivitamin untuk menambah vitamin dan mineral karena anak tidak suka makan.  
Padahal tidak seluruhnya kesulitan makan itu disebabkan oleh faktor ‘luar’ saja. Rupanya sikap ibu pun bisa mempengaruhi. “Seorang anak bahkan bisa sulit makan sejak ia bayi. Salah satunya adalah karena sikap ibunya. Kadang-kadang ada anak umur enam bulan sudah bisa memegang sendok sendiri, tetapi ibunya tidak sabar dan langsung mengambil alih, tidak memberi kesempatan pada anak. Padahal biarkan dia belajar dari awal dengan diberi tanggung jawab. Umur 10 bulan anak sudah bisa memasukkan sendiri makanan ke mulutnya. Dengan dilatih akan timbul perasaan ingin mencoba makan sendiri.”

Suka atau tidak suka

Pada dasarnya faktor-faktor penyebab kesulitan makan dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yakni faktor nutrisi, faktor penyakit atau kelainan organik, serta faktor gangguan atau kelainan kejiwaan.
Faktor nutrisi merupakan penyebab kesulitan makan pada umumnya. Pada masa bayi, masalah kesulitan makan terutama bersifat mekanis, berkaitan dengan keterampilan makan, yakni menyusu ASI atau menghisap susu botol. Hal itu dapat disebabkan oleh kekurangan dalam aspek pembinaan atau pendidikan makan.

“Penyebabnya banyak,” jelas seorang dokter “Seperti manajemen pemberian ASI yang kurang benar; atau usia saat anak diberi atau diperkenalkan makanan tambahan kurang tepat, mungkin terlalu dini atau terlalu lambat. Bisa juga karena jadwal pemberian makan kurang luwes atau terlalu ketat, kurang sesuai dengan keadaan lapar atau haus anak yang berkaitan dengan keadaan pengosongan lambung.”

Hal lain yang sering terjadi adalah cara pemberian makanan yang kurang tepat, misalnya ibu terlalu memaksakan saat menyuapi anaknya, kurang lemah lembut, atau kurang membujuk atau merayu. Akibatnya si kecil menjadi frustasi, sehingga cenderung bersikap ‘lebih baik’ melawan daripada makan. Selan itu, masih terdapat faktor suka atau tidak suka yang bersifat individual pada anak terhadap jenis-jenis makanan tertentu.

“Perlu disadari, kebiasaan makan yang terbentuk dalam dua tahun pertama kehidupan anak akan berpengaruh nyata atas kebiasaan makan pada tahun-tahun berikutnya. Kesulitan makan yang timbul pada usia 2-4 tahun kerapkali terjadi sebagai akibat paksaan orangtua yang berlebihan untuk makan, yang kemudian disertai kecemasan berlebihan kalau anak tidak memenuhi keinginan sepihak orangtua. Akibatnya, anak menunjukkan reaksi negatif. Kalau sudah begitu, diperlukan perbaikan hubungan orangtua dan anak.”
Faktor-faktor lain yang mengganggu makan adalah terlalu banyaknya kekacauan yang terjadi saat makan, atau waktu yang terlalu pendek pada pihak orangtua maupun pada anak. Bisa juga makanan yang dihidangkan kurang menarik selera makan anak.

“Saat-saat makan sebaiknya merupakan waktu yang menyenangkan dan membahagiakan, disertai percakapan yang menarik bagi semua yang hadir. Selera makan anak itu harus dihormati. Kalau pada suatu saat keinginan makannya di bawah rata-rata hendaknya jangan sampai ada paksaan agar ia makan lebih banyak lagi. Orangtua harus menyadari bahwa kebiasaan makan dapat diajarkan dengan memberi contoh dibandingkan hanya nasihat saja,” papar dokter lebih lanjut.

Faktor penyakit atau kelainan organik juga perlu diketahui orangtua, karena pada umumnya akan disertai dengan kesulitan makan. Yakni berkaitan dengan alat pencernaan makan, khususnya unsur-unsur dalam rongga mulut, bibir, gigi geligi, langit-langit, lidah dan tenggorokan, sistem saraf otak, sistem hormonal (endokrin) dan enzim-enzim yang berkaitan dengan penerimaan makanan, maupun proses metabolisme tubuh.

Sedangkan faktor gangguan atau kelainan kejiwaan (psikologis) pada sikap makan sebagai akibat distorsi dalam hubungan interaksi pemberian makan, misalnya penolakan makanan atau nafsu makan yang berkurang (anoreksia). “Anoreksia nervosa biasanya terdapat pada gadis-gadis remaja karena mereka ingin memiliki tubuh yang langsing,”  

Malnutrisi

Keadaan sulit makan pada anak-anak biasanya tidak sampai menimbulkan dampak berarti bagi kesehatan maupun tumbuh kembang anak, termasuk kepintarannya. Namun, bila kesulitan makan yang berat berlangsung lama bisa berdampak negatif. Jika jumlah masukan makanan sebagai sumber energi dan protein berkurang dalam jangka waktu lama akan terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi muda, yang disebut gagal tumbuh (failure to thrive). Sedangkan pada bayi yang lebih tua atau anak balita terjadi penyakit Kekurangan Kalori Protein (KKP).

“Anak yang kekurangan kalori tubuhnya akan kurus. Di daerah-daerah tertentu ada pola makan yang salah, misalnya kebanyakan karbohidrat, proteinnya kurang. Jadi, meski anak gemuk tetap kurang gizi, karena komposisi makanan yang salah. Contohnya, di daerah-daerah tertentu anak hanya diberi makan nasi tumbuk dengan protein rendah.”

Kalau anak terus sulit makan sehingga akhirnya mengalami kekurangan gizi, dikhawatirkan tubuhnya tidak bisa lagi mengatasi dan bisa menjadi malnutrisi. “Tetapi kalau kekurangannya hanya sebentar-sebentar masih bisa diatasi, sehingga tidak terjadi malnutrisi.”

Untuk mengatasi anak sulit makan, banyak dokter menganjurkan untuk memberikan kalori tinggi asalkan dari komposisi seimbang antara karbohidrat (60 %), protein (25-30 %), dan sisanya lemak. “Tetapi biasanya yang lebih tahu hal itu memang ahli gizi,” ujarnya. “Dengan kandungan makanan sehari-hari, seperti tahu, tempe, telor, sayuran, sudah cukup. Masalahnya adalah cara mengolah makanan agar anak berselera. Semua itu ‘kan berkaitan dengan taste. Contohnya, snack anak yang taste-nya tajam ataupun mi instan. Jadi, jangan sampai makanan anak rasanya kalah dengan snack atau mi instan.”

Dokter menyarankan, “Sebaiknya orangtua memahami masalah itu. Kadang-kadang orangtua yang kaya tapi sibuk, anaknya malah malnutrisi karena anaknya tidak terurus. Anak hanya sekadar makan, sedangkan beberapa kandungan vitamin mineral tidak tercakup. Jadi, buatlah suasana makan senyaman mungkin, sehingga menyenangkan bagi anak. Dan, memang itu perlu waktu.”

Saran dokter itu tidak salah untuk dicoba, terutama bila anak Anda sedang mengalami sulit makan.


#####