
NAIK BIS KOTA
Oleh: Ayodya Lakshmidevi
Ronny diajak naik bis kota oleh Mama. Ia senang sekali karena baru sekali itu Mama mengajaknya.
"Ma, kenapa orang-orang itu berdiri? Karena tidak ada bangku kosong, ya?" tanya Ronny berbisik. Matanya menatap para penumpang yang berdiri. Mama mengangguk.
"Kalau sudah tahu bis ini penuh kenapa naik, Ma?" tanya Ronny lagi.
"Mereka terpaksa naik karena tidak ingin terlambat sampai di tempat tujuannya," bisik Mama menjelaskan.
Perhatian Ronny beralih ketika ada dua orang pengamen kecil yang naik. Keduanya bernyanyi dengan bantuan alat-alat seadanya dan suaranya pun sumbang.
"Itu lagu apa, Ma? Kenapa mereka nyanyi di atas bis?" tanya Ronny heran.
"Mereka hanya nyanyi sembarangan, asalkan bisa dapat uang," bisik Mama.
Mulut Ronny melongo, sedangkan matanya membulat.
"Jadi anak itu cari uang, Ma? Tidak sekolah? Kenapa tidak dimarahi ibunya?"
Mama mengelus kepala Ronny penuh kasih. "Mereka kasihan, ya? Orang tua mereka miskin, sehingga tidak mampu menyekolahkan mereka. Jangankan untuk sekolah, untuk makan pun susah. Jadi mereka terpaksa mengamen untuk membantu mencari uang," bisik Mama.
"Kasihan ya, Ma," Ronny bergumam. "Aku harus rajin sekolah biar jadi pandai. Selagi Mama dan Papa bisa membiayai aku."
Ia menatap terus kedua pengamen kecil itu sampai mereka turun. Mama memeluknya.
"Kalau begitu mulai besok jangan malas kalau dibangunkan sekolah, ya? Janji?"
Ronny tertawa, "Beres, Ma."