Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Senin, 05 Mei 2014

Ayodya Lakshmidevi: Imunisasi memang penting tetapi bukan segala




IMUNISASI MEMANG PENTING 
tetapi bukan segala

Oleh: Ayodya Lakshmidevi


Imunisasi memang penting tetapi bukan segala-galanya.  Bagi anak yang paling penting didahulukan adalah perbaikan gizi.  Imunisasi bisa ditunda.    Kadang-kadang yang ditakuti orang tua pada imunisasi adalah panas badan anak akan naik. Imunisasi bisa membuat anak malas makan. Kalau gizi anak kurang baik, sebaiknya sebelum dilakukan imunisasi gizi anak harus diperbaiki lebih dahulu. Imunisasi bisa belakangan.  Akan tetapi jika gizi anak bagus imunisasi bisa langsung dilakukan dan tidak perlu ditunda.

Pertimbangan untuk tidak melakukan imunisasi pada anak juga dapat ditelusuri riwayat kesehatan anak itu.  Kalau seorang anak mempunyai riwayat kejang-kejang bila terkena panas, maka imunisasi yang dapat menyebabkan panas perlu dipertimbangkan. Meskipun ada imunisasi yang tidak menimbulkan panas tetapi setiap imunisasi tidak menjamin tidak disertai panas badan pada anak.

Petunjuk imunisasi sesuai jenis vaksin dan umur anak, yang seringkali diberikan pada ibu dapat dipakai sebagai batasan untuk anak memperoleh imunisasi.  Tetapi petunjuk imunisasi itu tidak perlu terlalu kaku diterapkan.  Bagi anak dengan gizi sudah bagus, imunisasi tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi anak dengan gizi kurang bagus maka imunisasi bisa menjadi masalah sehingga sebelum dilakukan imunisasi perlu dilakukan perbaikan gizi. Apalagi jika anaknya agak sulit makan sehingga badannya kurus kering, maka imunisasi mungkin bukan kebutuhan pokok.  Meningkatkan nafsu makan anak agar memiliki gizi baik adalah hal penting yang harus diperhatikan.

Imunisasi yang dilakukan tidak sesuai dengan petunjuk yang dilakukan tidak menjadi masalah.  Imunisasi yang tidak lengkap pun tidak apa-apa. Imunisasi diberikan harus dengan mempertimbangkan kondisi anak. Meskipun hal itu sangat sulit dilakukan jika imunisasi diadakan secara masal. Berbeda dengan imunisasi yang dilakukan secara perorangan atau di rumah sakit.  Dokter akan selalu mempertimbangkan keadaan gizi anak sebelum imunisasi.

Kesulitan untuk memeriksa kondisi anak juga bisa terjadi di pos yandu, kecuali di sana tersedia dokter yang memeriksa anak sebelum imunisasi. Di pos yandu seringkali bisa dilakukan imunisasi secara langsung melalui bidan atau kader yang akan melakukan imunisasi sesuai dengan petunjuk umur dan jenis imunisasi yang akan diberikan.

Yang perlu diperhatikan bagi anak adalah pertumbuhan dan perkembangan, serta keadaan gizi, imunisasi adalah pendukung setelah tumbuh kembang terpenuhi secara baik. Imunisasi bisa efektif untuk membentuk antibody jika kondisi tubuh secara optimal sehat.  Antibodi sebagai pertahanan tubuh tidak harus terbentuk melalui imunisasi, tetapi juga bisa secara alamiah atau silent infection yang bisa tidak menimbulkan sakit.  Imunisasi adalah infeksi buatan yang bertujuan untuk membentuk antibody dalam tubuh.
Seorang anak sakit karena telat dilakukan imunisasi seringkali diartikan salah.  Setelah imunisasi bisa saja seorang anak terserang sakit, tetapi tanpa imunisasi pun seorang anak bisa tahan terhadap suatu penyakit karena dirinya sudah membentuk antibody karena silent infection.

Di sekitar kita banyak sekali bakteri dan virus yang dapat menyebabkan sakit.  Jika semua penyakit akan dibuatkan vaksin akan banyak sekali vaksin yang diberikan pada anak melalui imunisasi.  Akan ada ribuan vaksin dan mungkin sepanjang hidup kita akan menjalankan imunisasi.  Kondisi kesehatan masyarakat yang semakin baik akan memberikan perlindungan sendiri. 

Infeksi ringan akan membentuk kekebalan pada tubuh kita sehingga tidak semua bakteri atau virus perlu dibuatkan vaksin. Beberapa kuman yang memang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kematian memang perlu dibuat vaksin untuk imunisasi.  Misalnya wabah cacar yang saat ini sudah hampir tidak ada. Untuk imunisasi hepatitis misalnya tidak perlu harus diberikan secara dini.  Seorang anak selain keadaan gizi yang harus prima, sebaiknya tubuh anak diberikan kesempatan agar bisa secara alami melawan penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Di dalam vaksin juga ada zat pengawet tibarasol? Yang saat ini sering menimbulkan kontroversi.  Vaksin tanpa pengawet tidak akan tahan lama meskipun keberadaan zat pengawet pada vaksin itu secara statistik sering menimbulkan masalah yang ditakuti meskipun belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Pertimbangan menggunakan vaksin dengan bahan pengawet itu diambil karena manfaat perlindungan vaksin itu masih sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi banyak orang.

Imunisasi penting tetapi lebih utama adalah keadaan gizi anak. Kalau gizi anak baik dia akan merespon imunisasi dengan sangat baik. Dalam kondisi gizi jelek, respon anak pada imunisasi akan tidak ada. Respon buruk pada imunisasi karena kondisi gizi yang jelek tidak akan bisa diperbaiki dengan melakukan imunisasi ulang kecuali dengan memperbaiki kondisi gizi anak itu sendiri. Respon imunisasi yang baik hanya dapat diterima oleh keadaan gizi yang lengkap dan sempurna, tidak setengah-setengah. Lengkap dengan vitamin, mineral, dan unsur-unsur penting gizi lainnya.

Jika ada anak yang belum pernah diberikan imunisasi ternyata terserang penyakit itu.  Apakah anak itu masih perlu untuk diberikan imunisasi? Seorang anak yang sudah terserang penyakit tidak perlu diberikan vaksinasi. Anak yang sudah diberikan vaksinasi juga tidak dijamin terlindung 100%.  Dokter sering dikomplain oleh ibu pasien yang anaknya terserang tipus meskipun anak itu sudah divaksinasi.  Kadang-kadang dalam kondisi tertentu ketahanan kuman akan sangat prima sehingga mampu menyerang tubuh orang yang sehat. Atau kemungkinan strain kuman yang menyerang sudah mengalami mutasi dibandingkan dengan vaksin yang diberikan pada saat imunisasi. Vaksin yang diberikan oleh dokter maupun oleh bidan di pos yandu tidak berbeda.  Perbedaannya hanya jika imunisasi dilakukan oleh dokter, pasien akan lebih banyak mendapatkan keterangan lebih rinci dibandingkan di pos yandu.

Keadaan kesehatan saat ini banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor lingkungan terutama sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat kota karena polusi, zat-zat racun untuk serangga, zat pengawet, dan sebagainya. Keadaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan imunisasi.  Keaadaan lingkungan juga sangat mempengaruhi kuman, sehingga meskipun sudah dilakukan vaksinasi tetapi karena strain kuman sudah berubah karena lingkungan, maka vaksinasi itu tidak mampu lagi melawan serangan kuman yang sudah berubah itu.


Pembuatan vaksin yang mutakhir tidak mampu mengikuti perubahan strain kuman sehingga mampu menghasilkan vaksin yang mutakhir.  Vaksin yang dihasilkan saat ini umumnya merupakan vaksin dari kuman yang belum berubah padahal karena kondisi lingkungan yang buruk perubahan atau mutasi kuman itu sangat cepat terjadi. Seringkali vaksin yang dibuat juga berasal dari kuman yang berbeda dari negara lain sehingga memberi efek berbeda jika dipergunakan untuk kuman di negara kita.  Di negara berkembang penelitian untuk perubahan kuman masih sangat kurang. Begitu juga obat-obatan yang diberikan, seringkali tertinggal jauh oleh perubahan dari kuman itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat itu, maka yang paling utama adalah keadaan gizi dan tumbuh kembang anak. 

Sabtu, 05 April 2014

Ayodya Lakshmidevi: Anak Sulit Makan, Ibu Penyebabnya?



ANAK SULIT MAKAN, IBU PENYEBABNYA?
Oleh: Ayodya Lakshmidevi

Anak sulit makan? Hal itu umum dialami anak-anak, terutama berusia 2-4 tahun. Padahal justru pada usia balita yang merupakan golden period anak membutuhkan gizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya. Para ibu sebaiknya berhati-hatilah dengan sikap Anda.

Mungkin Anda akan mencari-cari penyebabnya, dan tak jarang mencari ‘kambing hitam’ dari masalah itu. Ternyata, dalam praktik sehari-hari, dokter anak sering mendapat pertanyaan dan keluhan dari para orangtua. Menurut dokter anak, keluhan yang sering muncul adalah:

  • makanan tidak mau ditelan, ditahan saja di dalam mulut, bahkan dikeluarkan lagi;
  • menunjukkan perilaku penolakan atau melawan pada waktu makan;
  • hanya mau makan jenis makanan tertentu saja, misalnya hanya mau minum susu saja, tidak mau makan nasi;
  • cepat bosan terhadap makanan yang diberikan.
Tidak sedikit orangtua memilih vitamin perangsang nafsu makan untuk anak-anak atau multivitamin untuk menambah vitamin dan mineral karena anak tidak suka makan.  
Padahal tidak seluruhnya kesulitan makan itu disebabkan oleh faktor ‘luar’ saja. Rupanya sikap ibu pun bisa mempengaruhi. “Seorang anak bahkan bisa sulit makan sejak ia bayi. Salah satunya adalah karena sikap ibunya. Kadang-kadang ada anak umur enam bulan sudah bisa memegang sendok sendiri, tetapi ibunya tidak sabar dan langsung mengambil alih, tidak memberi kesempatan pada anak. Padahal biarkan dia belajar dari awal dengan diberi tanggung jawab. Umur 10 bulan anak sudah bisa memasukkan sendiri makanan ke mulutnya. Dengan dilatih akan timbul perasaan ingin mencoba makan sendiri.”

Suka atau tidak suka

Pada dasarnya faktor-faktor penyebab kesulitan makan dapat dibedakan dalam tiga kelompok, yakni faktor nutrisi, faktor penyakit atau kelainan organik, serta faktor gangguan atau kelainan kejiwaan.
Faktor nutrisi merupakan penyebab kesulitan makan pada umumnya. Pada masa bayi, masalah kesulitan makan terutama bersifat mekanis, berkaitan dengan keterampilan makan, yakni menyusu ASI atau menghisap susu botol. Hal itu dapat disebabkan oleh kekurangan dalam aspek pembinaan atau pendidikan makan.

“Penyebabnya banyak,” jelas seorang dokter “Seperti manajemen pemberian ASI yang kurang benar; atau usia saat anak diberi atau diperkenalkan makanan tambahan kurang tepat, mungkin terlalu dini atau terlalu lambat. Bisa juga karena jadwal pemberian makan kurang luwes atau terlalu ketat, kurang sesuai dengan keadaan lapar atau haus anak yang berkaitan dengan keadaan pengosongan lambung.”

Hal lain yang sering terjadi adalah cara pemberian makanan yang kurang tepat, misalnya ibu terlalu memaksakan saat menyuapi anaknya, kurang lemah lembut, atau kurang membujuk atau merayu. Akibatnya si kecil menjadi frustasi, sehingga cenderung bersikap ‘lebih baik’ melawan daripada makan. Selan itu, masih terdapat faktor suka atau tidak suka yang bersifat individual pada anak terhadap jenis-jenis makanan tertentu.

“Perlu disadari, kebiasaan makan yang terbentuk dalam dua tahun pertama kehidupan anak akan berpengaruh nyata atas kebiasaan makan pada tahun-tahun berikutnya. Kesulitan makan yang timbul pada usia 2-4 tahun kerapkali terjadi sebagai akibat paksaan orangtua yang berlebihan untuk makan, yang kemudian disertai kecemasan berlebihan kalau anak tidak memenuhi keinginan sepihak orangtua. Akibatnya, anak menunjukkan reaksi negatif. Kalau sudah begitu, diperlukan perbaikan hubungan orangtua dan anak.”
Faktor-faktor lain yang mengganggu makan adalah terlalu banyaknya kekacauan yang terjadi saat makan, atau waktu yang terlalu pendek pada pihak orangtua maupun pada anak. Bisa juga makanan yang dihidangkan kurang menarik selera makan anak.

“Saat-saat makan sebaiknya merupakan waktu yang menyenangkan dan membahagiakan, disertai percakapan yang menarik bagi semua yang hadir. Selera makan anak itu harus dihormati. Kalau pada suatu saat keinginan makannya di bawah rata-rata hendaknya jangan sampai ada paksaan agar ia makan lebih banyak lagi. Orangtua harus menyadari bahwa kebiasaan makan dapat diajarkan dengan memberi contoh dibandingkan hanya nasihat saja,” papar dokter lebih lanjut.

Faktor penyakit atau kelainan organik juga perlu diketahui orangtua, karena pada umumnya akan disertai dengan kesulitan makan. Yakni berkaitan dengan alat pencernaan makan, khususnya unsur-unsur dalam rongga mulut, bibir, gigi geligi, langit-langit, lidah dan tenggorokan, sistem saraf otak, sistem hormonal (endokrin) dan enzim-enzim yang berkaitan dengan penerimaan makanan, maupun proses metabolisme tubuh.

Sedangkan faktor gangguan atau kelainan kejiwaan (psikologis) pada sikap makan sebagai akibat distorsi dalam hubungan interaksi pemberian makan, misalnya penolakan makanan atau nafsu makan yang berkurang (anoreksia). “Anoreksia nervosa biasanya terdapat pada gadis-gadis remaja karena mereka ingin memiliki tubuh yang langsing,”  

Malnutrisi

Keadaan sulit makan pada anak-anak biasanya tidak sampai menimbulkan dampak berarti bagi kesehatan maupun tumbuh kembang anak, termasuk kepintarannya. Namun, bila kesulitan makan yang berat berlangsung lama bisa berdampak negatif. Jika jumlah masukan makanan sebagai sumber energi dan protein berkurang dalam jangka waktu lama akan terjadi hambatan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi muda, yang disebut gagal tumbuh (failure to thrive). Sedangkan pada bayi yang lebih tua atau anak balita terjadi penyakit Kekurangan Kalori Protein (KKP).

“Anak yang kekurangan kalori tubuhnya akan kurus. Di daerah-daerah tertentu ada pola makan yang salah, misalnya kebanyakan karbohidrat, proteinnya kurang. Jadi, meski anak gemuk tetap kurang gizi, karena komposisi makanan yang salah. Contohnya, di daerah-daerah tertentu anak hanya diberi makan nasi tumbuk dengan protein rendah.”

Kalau anak terus sulit makan sehingga akhirnya mengalami kekurangan gizi, dikhawatirkan tubuhnya tidak bisa lagi mengatasi dan bisa menjadi malnutrisi. “Tetapi kalau kekurangannya hanya sebentar-sebentar masih bisa diatasi, sehingga tidak terjadi malnutrisi.”

Untuk mengatasi anak sulit makan, banyak dokter menganjurkan untuk memberikan kalori tinggi asalkan dari komposisi seimbang antara karbohidrat (60 %), protein (25-30 %), dan sisanya lemak. “Tetapi biasanya yang lebih tahu hal itu memang ahli gizi,” ujarnya. “Dengan kandungan makanan sehari-hari, seperti tahu, tempe, telor, sayuran, sudah cukup. Masalahnya adalah cara mengolah makanan agar anak berselera. Semua itu ‘kan berkaitan dengan taste. Contohnya, snack anak yang taste-nya tajam ataupun mi instan. Jadi, jangan sampai makanan anak rasanya kalah dengan snack atau mi instan.”

Dokter menyarankan, “Sebaiknya orangtua memahami masalah itu. Kadang-kadang orangtua yang kaya tapi sibuk, anaknya malah malnutrisi karena anaknya tidak terurus. Anak hanya sekadar makan, sedangkan beberapa kandungan vitamin mineral tidak tercakup. Jadi, buatlah suasana makan senyaman mungkin, sehingga menyenangkan bagi anak. Dan, memang itu perlu waktu.”

Saran dokter itu tidak salah untuk dicoba, terutama bila anak Anda sedang mengalami sulit makan.


#####

Rabu, 26 Maret 2014

Ayodya Lakshmidevi: CENAYANG, PARANORMAL




CENAYANG
KEMAMPUAN PSIKIS TAK MUNGKIN DITEKAN

oleh: 
Ayodya Lakshmidevi

          Telepon berdering dengan nyaring. Sebelum kita mendengar suara di seberang sana, kita sudah bisa menebak siapa orang tersebut. Pengalaman itu kadangkala kita alami secara tidak sengaja dan tidak bisa dimengerti apa sebabnya, kecuali menganggap ‘untung-untungan’. Kemampuan serupa itu sebenarnya ada pada setiap orang, tetapi seringkali kita takut mengakuinya karena tidak memahami bagaimana kemampuan itu bisa muncul. Yang pasti kemampuan itu berhubungan dengan kekuatan psikis.
          Kata psikis, atau psychic, berasal dari bahasa Yunani ‘psychikos’,  yang berarti ‘jiwa’, ‘rohani’, atau ‘spiritual’. istilah psychic juga ditujukan bagi orang yang peka terhadap kekuatan-kekuatan di luar dunia fisik. Kita sering mengartikannya sebagai ‘paranormal’ atau ‘cenayang’.
          Kemampuan psikis dikenal sebagai extrasensory perception (ESP) yang memberikan pengalaman psikis secara pribadi. Ada seseorang bermimpi melihat kawan dekatnya terbujur kaku di dalam peti mayat. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ia diberi tahu bahwa kawan dekatnya itu telah meninggal. Kemampuan itu sesunguhnya adalah bagian dari ESP yang disebut precognition, atau kesadaran sebelumnya, atau bisa juga berupa telepati, yakni komunikasi antarpikiran. Bagian ESP lainnya adalah kemampuan untuk melihat hal-hal yang tidak tampak, yang disebut clairvoyance.
          Munculnya ESP pada seseorang kadang-kadang sama misteriusnya dengan caranya masuk yang diteruskan ke alam bawah sadar. Namun, untuk membuktikan adanya kemampuan psikis tersebut agaknya sulit. Itu sebabnya kemampuan itu merupakan kesadaran paranormal (di atas normal), yakni di luar hukum-hukum alam yang berlaku.

Dari Dalam dan Luar Jiwa

          Entah sejak kapan persisnya ESP itu mulai ada dalam sejarah manusia. Namun, sudah sejak berabad-abad lalu ada laporan tentang itu, misalnya gambaran tentang peperangan yang terjadi jauh di masa silam, pertanda tentang sesuatu yang bakal terjadi, atau peristiwa yang aneh dan muncul dengan tiba-tiba. Salah satu yang terkenal adalah precognition atau ramalan Nostradamus tentang Revolusi Perancis yang sangat terkenal.
          Pada masa itu bayangan atau ramalan seperti itu tidak bisa diterima, bahkan seseorang yang memiliki kemampuan itu bisa dianggap ‘gila’. Padahal untuk menganggap sepi kemampuan atau kesadaran itu juga tidak bisa, karena pada zaman Mesir kuno ilmu spiritual sudah banyak diminati. Bahkan pemikir kuno Aristoteles dan Demokritus pun --lebih dari dua ribu tahun lalu-- sudah berusaha menyelidiki apakah gejala psikis itu.
          Meski kemampuan memperoleh bayangan seperti itu terus ditekan, namun diam-diam berkembang terus dalam masyarakat, terutama yang mempercayainya. Sekitar pertengahan abad XVII barulah ilmu pengetahuan moderen mulai mendapat perhatian. Terutama oleh Swedenborg yang pandai dalam masalah-masalah yang berhubungan dengan keduniawian. Dia pulalah orang pertama yang mengajukan pikiran bahwa seperti halnya dunia fisik ini, ‘dunia lain’ pun tunduk kepada hukum-hukum alam.
          Pada tahun 1848 spiritualisme ‘lahir’ di Amerika. Namun, pendalaman gejala psikis ini baru mendapat kemajuan melalui riset yang dilakukan oleh Henry Sidgwick pada tahun 1860, lima tahun setelah ia kuliah di Trinity College, Cambridge, tempat ia belajar sastra klasik dan matematika. Di sana ia mendapat partnerFrederick Myers, seorang muridnya di bidang yang sama. Mereka tertarik mempelajari tujuan jiwa manusia. Bersama dengan tokoh Cambridge lainnya, Edmund Gurney, yang juga ahli sastra klasik ternama dan mempunyai bakat alamiah dalam percobaan psikologis, terutama dalam hipnose (keadaan seperti tidur yang ditimbulkan oleh kekuatan hipnotis), ketiganya akhirnya menjadi ‘pusat’ bagi penelitian psikis. Belakangan mereka mendapat tambahan dukungan, antara lain Lord RayleighArthur Balfour (kelak menjadi PM Inggris) bersama saudaranya Gerald Balfour dan Eleanor BalfourWilliam Barret (profesor ilmu fisika di Dublin), dan Stainton Moses (pendeta dan ahli spiritual).
          Kesuksesan Sir William Barret dalam beberapa percobaan ‘pemindahan pikiran’ di Dublin mendorong dirinya untuk mengadakan konperensi, sekaligus membangkitkan kembali perhatian Sidgwick yang telah mulai surut akibat pengalaman yang menyedihkan dan mengecewakan dalam percobaan-percobaannya. Dalam konperensi tersebut dibentuk organisasi yang dinamakan Lembaga Riset Psikis (Society for Psychical Research), yang kemudian terkenal dengan nama singkatannya, yakni SPR. Sidgwick terpilih sebagai ketuanya.
          Di antara hal-hal yang ditangani SPR adalah penyelidikan terhadap sifat dan luas pengaruh yang dapat dilakukan pikiran seseorang kepada orang lain, terlepas dari cara dan jalan persepsi yang dikenal umum. Selain itu, mempelajari hipnotisme dan bentuk-bentuk dari apa yang dinamakan ketidaksadaran hipnotis yang diduga menimbulkan kekebalan terhadap rasa sakit, selain masalah ramalan dan gejala-gejala lain yang ada hubungannya dengan itu. Pertanyaan yang mereka ajukan sederhana saja, yakni “Apakah kemampuan psikis memang ada?”
          Kemampuan psikis muncul dengan cara bermacam-macam dan aneh. ‘Tanda-tanda’ atau ‘bayangan’ muncul ke atas permukaan kesadaran dari bawah sadar. Semua tanda tersebut bisa berasal dari dalam maupun luar jiwa, mengambang memasuki alam sadar, baik secara langsung, tersembunyi ataupun dengan jalan tak langsung, atau bersifat simbolis.
          Belakangan, kemampuan untuk itu ternyata bisa dipelajari, bahkan digunakan untuk penyembuhan, baik penyakit fisik maupun rohani, meski kadar keberhasilannya mungkin tak sama bagi setiap orang. Saat ini mulai banyak buku-buku yang bisa menuntun kita mendalami hal tersebut. Tak dibutuhkan inteligensi atau kepekaan, selain kemauan untuk membuka diri.


***

Senin, 10 Maret 2014

Ayodya Lakshmidevi: Active Fathering, Mengapa Tidak?



Active Fathering, 
Mengapa Tidak?
oleh: Ayodya Lakshmidevi


Seorang bayi yang menginjak usia enam bulan sudah bisa meraih mainannya di lantai. Kadang si kecil akan berusaha lebih keras lagi untuk lebih dekat dengan mainannya yang lain. Melihat itu, naluri ibu yang muncul pertama kali adalah memindahkan mainannya agar lebih mudah dijangkau si kecil. Sedangkan sang ayah akan membiarkan si kecil terus berusaha sendiri agar bisa meraih mainannya. Pada saat itu ibu akan berpikir mungkin si kecil akan menjadi frustrasi dan perlu dibantu. Tetapi lain halnya dengan sang ayah yang berpikir, si kecil harus bisa berusaha sendiri dan belajar dari usaha yang dilakukan, walau hasil akhirnya bisa baik ataupun tidak.

Ilustrasi seperti itu banyak dilakukan oleh sebagian orangtua. Menurut Anda, mana yang lebih baik? Cara ayah atau cara ibu? Sebenarnya Anda tidak perlu memilih mana yang lebih baik. Karena dari hasil riset menunjukkan bahwa anak akan belajar dengan baik sesuai cara orangtua mendidik mereka, walau dengan cara berbeda. Kadang ayah dan ibu memberikan cara berbeda saat memberikan perhatian dan kasih sayang. Perbedaan tersebut tidak akan membuat bayi merasa bingung. Justru dengan perbedaan itu, mereka bisa belajar bahwa mereka bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang berbeda pula. Walau cara ayah dan ibu cukup berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan, yaitu mereka akan menyayangi bayi-bayinya secara emosional dan juga memberikan kebutuhan fisik yang bayi butuhkan.

Anak-anak yang sering terlibat dengan ayah seringkali memiliki bagian-bagian perkembangan tertentu yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang terlibat dengan ayah. Mereka menjadi lebih pandai dalam hal pemecahan masalah dan bisa mengatasi rasa frustrasi, memiliki kemampuan bersosialisasi lebih baik, lebih mudah memahami perasaan orang lain, dan mudah bergaul dengan beragam individu. Peran ayah yang aktif juga berperan dalam menumbuhkan sifat humoris anak, perhatian dan keinginan besar untuk bereksplorasi dan belajar.

Peran ayah
Walau ayah dan ibu sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar merawat atau mengasihi anak-anaknya, namun biasanya sang ibu adalah pemegang peran yang lebih utama. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain:

# Pria, seringkali kurang berpengalaman dengan anak-anak, ketimbang wanita. Dalam masyarakat, wanita berlatih cara merawat anak seiring dengan kehidupan, seperti layaknya merawat adiknya saat masih kecil. Sedangkan anak atau remaja laki-laki seringkali tidak memiliki kesempatan itu. Itu sebabnya, ada beberapa pria yang sering merasa tak nyaman dengan masalah tersebut atau kurang terampil dalam hal merawat anak-anak.

# Pria cenderung tidak merasakan tekanan sosial layaknya wanita saat belajar merawat anak-anak mereka sendiri. Jadi, mereka sering mencari bantuan dari kerabat keluarga, teman dan sumber-sumber lainnya agar keterampilan parenting mereka bertambah.

# Karena wanita lebih banyak terlibat dalam parenting, maka mereka akan semakin mahir dan mungkin akan menyadari bahwa sang ayah tidak kompeten dalam hal yang sama. Jika hal ini terjadi, pola tertentu akan mulai terbentuk, sehingga sang ibu akan melakukan hal yang lebih banyak, belajar lebih banyak, merasa lebih yakin, dan merasa bertanggungjawab secara kontinyu terhadap anak-anaknya. Sedangkan sang ayah dalam kondisi ini akan belajar lebih sedikit dan merasa kurang mampu untuk merawat anak-anaknya setiap hari. Bila pola tersebut semakin menguat, sang ibu akan merasa terbebani, ayah akan merasa tidak ‘dianggap’ dan anak-anak pun akan kehilangan kasih sayang dari dua orang yang mereka sayangi.

# Berbagai realita sosioekonomi bisa membuat peran ayah menjadi tantangan tertentu. Dalam orang tua tunggal (single-parent) dan orang tua yang bercerai, banyak ayah yang tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya. Sedangkan dalam keluarga lainnya, wanita dan pria seringkali dihadapi berbagai tekanan baik dari ekonomi, beban pekerjaan yang seringkali mengganggu jadwal kebutuhan anak-anak mereka. Sedangkan bagi sebagian besar pria, situasi kehidupan seperti ini sering membuat mereka semakin sulit untuk menghabiskan waktunya bersama anak-anak.

Yang terbaik untuk keluarga
Walau sang ayah mengalami banyak tantangan dalam hal perawatan anak-anaknya, hal ini sebenarnya bisa diatasi, dibantu dan didukung pasangannya. Ada banyak cara agar ayah dan ibu bisa berbagi, bekerjasama, dan menjadi orangtua efektif dalam merawat dan mendidik anak-anak. Coba ikuti beberapa tips di bawah ini, agar Anda bisa siap berbagi tugas.

# Libatkan ayah sambil belajar melakukannya (learn by doing). Keterampilan parenting bisa diperoleh sambil melakukannya, dan mungkin pria akan merasa malu atau kurang kesempatan agar bisa berpengalaman dalam hal ini. Seawal mungkin ayah memulai dan sebanyak mungkin hal yang bisa dikerjakan, maka lambat laun akan membuat ayah semakin merasa nyaman dan kompeten. Memang pertama kalinya, Anda akan merasa kurang kompeten, tetapi dengan berjalannya waktu, bayi pun bisa menjadi guru Anda.

# Pria maupun wanita bisa menjadi orangtua yang efektif dalam berbagai hal. Baik perbedaan maupun persamaan antara kedua orangtua sangat bermanfaat bagi anak. Anda perlu ingat bahwa ada berbagai cara membesarkan anak dan bagaimana cara agar anak Anda pun bisa merasakan manfaatnya.

# Setiap orangtua memerlukan kesempatan atau waktu untuk mengembangkan jalinan kasih sayang dengan anak-anaknya. Sebagian besar orangtua akan belajar ‘seni’nya menjadi orangtua lebih baik saat sedang mandiri atau tidak memiliki siapa pun untuk merawat. Luangkan waktu bersama bayi, jaga agar bisa meminimalisasi berbagai bentuk instruksi, dan percaya pada pasangan untuk belajar sambil bekerja.

# Menjaga hubungan dengan pasangan agar tetap kompak. Riset menunjukkan bahwa pasangan suami isteri yang kompak dapat membantu keterlibatan peran ayah.

#####

Senin, 03 Februari 2014

Ayodya lakshmidevi: BULU BURUNG



BULU BURUNG
oleh: 
Ayodya lakshmidevi


Sudah lama Rully ingin memiliki seekor burung. Saat ia berulang tahun, Bapak memberinya seekor burung dara, lengkap dengan sangkarnya.
Setiap hari Rully selalu merawatnya dengan baik. Saat akan berangkat sekolah, Rully tak lupa menengok Si Mungil, burung kesayangannya. Begitu juga pulang sekolah ia langsung menuju sangkar Si Mungil.
"Jangan lupa makan siang dan istirahat lho, Rul," kata Ibu. "Kalau badanmu sakit karena kecapaian mengurus Mungil, kamu bisa sakit. Nah, siapa yang akan mengurusnya?"
"Kalau Rully sakit kan Ibu yang mengurusnya," kata Rully sambil tertawa.
Ibu menggeleng. "Apa kata Bapak kemarin? Kamu yang harus selalu merawatnya, bukan?" Rully terdiam, kemudian mengangguk mengiyakan kata ibunya.
Seperti biasanya, siang itu setelah selesai makan, Rully buru-buru menengok Si Mungil. Tapi tak berapa lama kemudian ia berteriak kebingungan. "Pak! Pak! Mungil sakit!"
Bapak cepat-cepat datang memeriksanya. Bulu sekitar leher dan bagian dada Mungil rontok. Tampak kulitnya yang kemerahan. "Oh Mungil tidak sakit, Rul. Dia sedang mengalami pergantian bulu. Setiap burung akan mengalami hal serupa ini."
"Pergantian bulu? Kenapa, Pak?" tanya Rully bingung.
Bapak tersenyum. "Begini, setiap burung akan mengalami pergantian bulu sebanyak tiga kali dalam hidupnya. Yang pertama saat burung lahir, dan kedua terjadi saat burung sudah menginjak dewasa. Masing-masing terjadi satu kali dalam hidupnya."
"Terus yang ketiga?" tanya Rully tak sabar.
"Sabar dulu, Rul. Bapak kan belum selesai," sahut Bapak tertawa. "Lalu yang ketiga akan terjadi setiap tahun. Sekarang kamu sudah mengerti? Jadi, Mungil tidak sakit."
Rully mengangguk.
"Nah, sekarang Bapak tanya padamu. Apa gunanya bulu burung itu?" kata Bapak.
Sesaat Rully terdiam, tapi kemudian menjawab, "Aku tahu, Pak. Yang pasti sih untuk terbang. Apa ada yang lain?"
"Ada," jelas Bapak. "Seperti guna kulit pada manusia, yaitu untuk memelihara suhu badan dan sebagai alat pelindung. Selain itu bisa dipakai sebagai alat penyamaran. Warna-warna bulu burung biasanya disesuaikan dengan tempat dia biasa hidup.
"O begitu," Rully mengangguk-angguk. "Jadi bulu Si Mungil akan kembali seperti dulu lagi, ya?"
"Ya. Asalkan kamu rajin merawatnya agar badannya selalu sehat," jelas Bapak.
"Kalau itu sih beres, Pak," janji Rully. "Rully akan merawat Si Mungil dengan baik!"


*****

Sabtu, 25 Januari 2014

Ayodya Lakshmidevi: CERITA ITU



CERITA ITU

Oleh: Ayodya Lakshmidevi

Trini termangu. Matanya memandang pesawat telepon hampir tak berkedip. Masih terngiang kata-kata seseorang bernama Susi dari majalah wanita "Cantik".

"Mbak Trini, selamat ya. Anda berhasil memenangkan lomba novel kami. Sesuai pengumuman kami Anda berhak mendapatkan hadiah dua setengah juta rupiah. Kami harap Mbak Trini bisa datang ke kantor kami untuk mengambil hadiah uang beserta piagam."

Dua setengah juta rupiah! Trini memejamkan mata. Jumlah uang itu sangat besar, karena ia belum pernah mendapatkan sebesar itu dengan keringatnya sendiri.  Apalagi ia tak pernah berharap apa-apa dengan cerita itu, bahkan kalau boleh jujur, ia tak ingin menang.  Bukan ia sombong atau tak percaya diri. Tetapi semata-mata karena cerita yang dikirimkannya itu adalah unek-unek perasaannya pada Mas Sigit. Apa jadinya kalau suaminya tahu?

Ia membiarkan air matanya mengalir. Sejak kejadian itu sekitar lima bulan lalu, hati kecilnya begitu yakin perkawinannya dengan Mas Sigit yang sudah berjalan sebelas tahun akan bubar. Meski suaminya bersumpah tidak akan berhubungan lagi dengan Dita, mantan pacarnya yang kini telah menjanda, ia tak mudah mempercayainya. Nalurinya begitu kuat. Mas Sigit pasti akan lari dalam pelukan Dita, terlebih lagi wanita itu memang sengaja menjeratnya.

Pada mulanya ia tak peduli saat Mas Sigit begitu bersemangat mengurusi acara reuni SMA-nya. Memang sudah sifat suaminya yang selalu tuntas menyelesaikan segala hal yang menjadi tugasnya. Jadi ketika Mas Sigit benar-benar mengurusi lustrum sekolahnya, ia tak curiga apa pun. Ia baru curiga ketika suaminya sering pulang larut malam dan hampir tak pernah lagi ada di rumah pada hari Sabtu. Ketika ia mendesaknya terus, sejak itulah rumah tangganya berubah bagai api dalam sekam. Suaminya tak ada perhatian lagi pada keluarga dan sering marah-marah.

Trini tak habis akal. Ia mencontoh cerita-cerita di sinetron dengan memata-matai suaminya. Hanya dalam empat hari ia bisa melihat sendiri bahwa suaminya selalu menemui Dita, kakak kelasnya dulu. Runtuhlah dunianya! Masih terngiang kata-kata Mas Sigit suatu ketika dulu, beberapa tahun silam.

"Kalau aku mau jujur, Tri, kadang-kadang aku masih sering bermimpi bertemu dengan Dita. Ceritanya hampir sama. Dia sedang menggapai-gapai ke arahku," ucap Mas Sigit.

"Jadi kau masih mencintai dia, 'kan?" sahut Trini ketus. Hatinya terasa sakit. Meski ia tak bisa memungkiri kenyataan suaminya yang berpacaran hampir lima tahun dengan teman sekelasnya itu, ia tetap tidak bisa menerima. Bukankah itu masa lalu?

"Bukan begitu. Aku sendiri tidak tahu kenapa bisa mimpi begitu. Padahal aku sudah lama sekali tidak bertemu dia." Mas Sigit menatapnya lekat-lekat. "Aku juga tidak pernah berpikir tentangnya, sejak kita menikah. Aku sudah bahagia hidup denganmu, Tri."

Trini menyusut air matanya. Lantas apa namanya kalau ternyata kau tak tahan rayuannya, Mas? bisik hatinya pedih. Lebih bahagiakah Mas Sigit setelah berhubungan kembali dengan Dita dan tetap mempunyai istri yang setia menunggu di rumah? Lalu, apa yang harus dilakukannya? Ia tahu pasti jawaban semua orang. Harus bertahan, sabar, dan jangan sampai 'melepas' suami pada wanita lain. Tapi bagaimana kalau Mas Sigit sudah sampai meniduri wanita itu? Ia merasa ikut kotor bila Mas Sigit masih menyentuhnya.

Trini bergidik. Saat ini ia lebih takut kalau Dita akan membaca ceritanya itu. Ia memang menjadikan hubungan suaminya dengan Dita sebagai tema ceritanya. Dan itu tidak tanggung-tanggung. Tokoh sentral cerita itu juga bernama Dita dan Sigit, sesuai aslinya. Yang membuatnya gundah, dalam cerita itu ia membuat tokoh Dita meninggal karena termakan tulahnya sendiri. Minuman beracun yang seharusnya diperuntukkan bagi istri Sigit tak sengaja tertukar oleh pembantunya. Mengetahui hal itu, Sigit bukannya tersadar betapa jahat pacarnya itu, ia malah memilih menceraikan istrinya karena menganggap seharusnya yang lebih pantas mati adalah istrinya. Ia dan Dita sudah punya sejuta angan-angan yang tinggal diwujudkan.

Trini meremas kedua tangannya yang terasa dingin. Ia begitu saja membuat cerita itu saat membaca lomba novel di majalah terkenal itu. Sama sekali ia tak bermimpi akan memenangkannya, karena ia hanya menjadikan lomba itu semata-mata untuk membuatnya semangat menulis. Padahal sudah lama sekali ia tak pernah menulis fiksi lagi. Ia tak mau membayangkan akhir sedih novel itu juga akan menimpanya. Ia hanya bisa berharap mudah-mudahan Mas Sigit tak lupa bahwa novelnya itu hanyalah fiksi.

Beberapa bulan berlalu tanpa ada perubahan dalam hubungan Trini dan suaminya. Ia selalu menahan diri untuk bersabar, meski melihat hati dan pikiran Mas Sigit lebih banyak melayang bila ia berada di rumah. Ia selalu menutup-nutupi tingkah laku suaminya pada Retha dan Yoga, kedua anak mereka. Majalah "Cantik" yang memuat novelnya secara bersambung disembunyikannya rapat-rapat. Ia tak berani membayangkan kemarahan Mas Sigit kalau sampai tahu kisah perselingkuhannya dibaca semua orang.

Hadiah yang dua setengah juta rupiah disimpannya hati-hati. Ia tak ingin membelanjakannya. Siapa tahu ia harus hidup berpisah dengan Mas Sigit dan uang itu akan dipakainya untuk mencicil membeli komputer sebagai modalnya menulis lagi. Perlahan-lahan rasa percaya dirinya tumbuh semakin kuat. Kemenangannya itu membawa hikmah sangat besar baginya. Seolah-olah ia sudah siap bila harus berpisah. Di hati kecilnya telah tumbuh keyakinan bisa menggantungkan hidup dengan menulis. Tak ada lagi yang perlu ditakuti.

Bunyi halus mobil Mas Sigit membangunkan tidurnya. Trini menatap jam dinding. Pukul setengah dua pagi. Ia tak merasa harus menyongsong kepulangan suaminya sejak hal itu menjadi kebiasaannya. Saat didengarnya pintu kamarnya dibuka, ia membalikkan badan membelakangi pintu dan kembali menutup mata.

Hingga beberapa lama tak terdengar suara apa pun. Kenapa Mas Sigit tidak berganti pakaian atau tidur? Ia juga tidak menyalakan lampu kamar, dan bahkan tidak ke kamar mandi seperti kebiasaannya. Trini menjadi resah. Perlahan-lahan ia membalikkan tubuh dan melihat suaminya duduk termenung di kursi rias. Menyadari dirinya terbangun, Mas Sigit mengangkat wajah dan menatapnya. Dalam keremangan kamar yang hanya mendapat sinar dari lampu teras, Trini tak bisa melihat ekspresi wajah suaminya. Ia bahkan tak memperhatikan suaminya memegang sebuah majalah "Cantik" yang memuat novelnya.

Mereka bertatapan dalam keheningan. Hanya dengung air conditioner yang hadir.

Hati Trini tercekat. Inikah saat menentukan dalam kehidupannya? Bahwa Mas Sigit akhirnya akan menceraikannya? Ia membuang tatapan dan menahan gejolak dada. Ia tak boleh terlihat lemah di mata suaminya.

Mas Sigit bangkit dan duduk di sebelahnya. Ia masih belum bersuara.

"Tri....," panggilnya. Trini tak menoleh. Mas Sigit mengulanginya.

Trini menoleh karena menangkap getaran dalam suara itu. Ia tetap tak bisa melihat ekspresi suaminya karena Mas Sigit duduk membelakangi cahaya.

Mas Sigit menyerahkan majalah yang sejak tadi dipegangnya. Trini hanya melihat sekilas, lantas menatap suaminya lagi. Ia bisa merasakan deburan jantungnya yang seolah merobek baju tidurnya yang tipis.

"Aku telah membaca ceritamu. Kenapa kau tak pernah bilang kalau kau memenangkan lomba itu?" Suara Mas Sigit terdengar datar.

Trini tak menyahuti. Apa yang harus dikatakannya?

"Ceritamu bagus," lanjut Mas Sigit. "Aku pikir aku berhak mendapatkan sebagian hadiahnya karena kau memakai dasar ceritaku, meskipun sebagian besar salah besar."

Trini merasa tiba-tiba berkeringat.

"Aku bukan seperti cerita yang kau tulis, Tri." Tiba-tiba Mas Sigit mencengkeram pundaknya dan menariknya dalam pelukan. "Maafkan aku, Tri. Aku sama sekali bukan seperti yang tokoh yang kau tulis. Memang aku telah khilaf, tapi aku tak mau kehilanganmu dan anak-anak. Aku sangat mencintaimu, Tri."

Mas Sigit menangis. Trini bisa merasakan dalam pelukannya. Ia membiarkan air matanya membanjiri pipinya. Ia tak menyangka akan mengalami kejadian anti klimaks seperti ini.

"Aku kotor, Tri. Aku tak tahu apakah kau akan......"

"Shshhshhh...." Trini tak membiarkan kalimat itu. Kedua tangannya memeluk tubuh Mas Sigit erat-erat. Ia tak hendak melepaskannya.

"Maafkan aku, Tri," gumam Mas Sigit tak jelas, tertelan tangisnya.

Trini hanya bisa mengangguk. Ia tak perlu mengatakan apa-apa atau memikirkan sakit hatinya lagi. Kejadian ini akan ditutupnya rapat-rapat, karena ia percaya kata-kata Mas Sigit. Cerita itu telah mengembalikan suaminya.


***