Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Senin, 05 Mei 2014

Ayodya Lakshmidevi: Imunisasi memang penting tetapi bukan segala




IMUNISASI MEMANG PENTING 
tetapi bukan segala

Oleh: Ayodya Lakshmidevi


Imunisasi memang penting tetapi bukan segala-galanya.  Bagi anak yang paling penting didahulukan adalah perbaikan gizi.  Imunisasi bisa ditunda.    Kadang-kadang yang ditakuti orang tua pada imunisasi adalah panas badan anak akan naik. Imunisasi bisa membuat anak malas makan. Kalau gizi anak kurang baik, sebaiknya sebelum dilakukan imunisasi gizi anak harus diperbaiki lebih dahulu. Imunisasi bisa belakangan.  Akan tetapi jika gizi anak bagus imunisasi bisa langsung dilakukan dan tidak perlu ditunda.

Pertimbangan untuk tidak melakukan imunisasi pada anak juga dapat ditelusuri riwayat kesehatan anak itu.  Kalau seorang anak mempunyai riwayat kejang-kejang bila terkena panas, maka imunisasi yang dapat menyebabkan panas perlu dipertimbangkan. Meskipun ada imunisasi yang tidak menimbulkan panas tetapi setiap imunisasi tidak menjamin tidak disertai panas badan pada anak.

Petunjuk imunisasi sesuai jenis vaksin dan umur anak, yang seringkali diberikan pada ibu dapat dipakai sebagai batasan untuk anak memperoleh imunisasi.  Tetapi petunjuk imunisasi itu tidak perlu terlalu kaku diterapkan.  Bagi anak dengan gizi sudah bagus, imunisasi tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi anak dengan gizi kurang bagus maka imunisasi bisa menjadi masalah sehingga sebelum dilakukan imunisasi perlu dilakukan perbaikan gizi. Apalagi jika anaknya agak sulit makan sehingga badannya kurus kering, maka imunisasi mungkin bukan kebutuhan pokok.  Meningkatkan nafsu makan anak agar memiliki gizi baik adalah hal penting yang harus diperhatikan.

Imunisasi yang dilakukan tidak sesuai dengan petunjuk yang dilakukan tidak menjadi masalah.  Imunisasi yang tidak lengkap pun tidak apa-apa. Imunisasi diberikan harus dengan mempertimbangkan kondisi anak. Meskipun hal itu sangat sulit dilakukan jika imunisasi diadakan secara masal. Berbeda dengan imunisasi yang dilakukan secara perorangan atau di rumah sakit.  Dokter akan selalu mempertimbangkan keadaan gizi anak sebelum imunisasi.

Kesulitan untuk memeriksa kondisi anak juga bisa terjadi di pos yandu, kecuali di sana tersedia dokter yang memeriksa anak sebelum imunisasi. Di pos yandu seringkali bisa dilakukan imunisasi secara langsung melalui bidan atau kader yang akan melakukan imunisasi sesuai dengan petunjuk umur dan jenis imunisasi yang akan diberikan.

Yang perlu diperhatikan bagi anak adalah pertumbuhan dan perkembangan, serta keadaan gizi, imunisasi adalah pendukung setelah tumbuh kembang terpenuhi secara baik. Imunisasi bisa efektif untuk membentuk antibody jika kondisi tubuh secara optimal sehat.  Antibodi sebagai pertahanan tubuh tidak harus terbentuk melalui imunisasi, tetapi juga bisa secara alamiah atau silent infection yang bisa tidak menimbulkan sakit.  Imunisasi adalah infeksi buatan yang bertujuan untuk membentuk antibody dalam tubuh.
Seorang anak sakit karena telat dilakukan imunisasi seringkali diartikan salah.  Setelah imunisasi bisa saja seorang anak terserang sakit, tetapi tanpa imunisasi pun seorang anak bisa tahan terhadap suatu penyakit karena dirinya sudah membentuk antibody karena silent infection.

Di sekitar kita banyak sekali bakteri dan virus yang dapat menyebabkan sakit.  Jika semua penyakit akan dibuatkan vaksin akan banyak sekali vaksin yang diberikan pada anak melalui imunisasi.  Akan ada ribuan vaksin dan mungkin sepanjang hidup kita akan menjalankan imunisasi.  Kondisi kesehatan masyarakat yang semakin baik akan memberikan perlindungan sendiri. 

Infeksi ringan akan membentuk kekebalan pada tubuh kita sehingga tidak semua bakteri atau virus perlu dibuatkan vaksin. Beberapa kuman yang memang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kematian memang perlu dibuat vaksin untuk imunisasi.  Misalnya wabah cacar yang saat ini sudah hampir tidak ada. Untuk imunisasi hepatitis misalnya tidak perlu harus diberikan secara dini.  Seorang anak selain keadaan gizi yang harus prima, sebaiknya tubuh anak diberikan kesempatan agar bisa secara alami melawan penyakit yang masuk ke dalam tubuh.

Di dalam vaksin juga ada zat pengawet tibarasol? Yang saat ini sering menimbulkan kontroversi.  Vaksin tanpa pengawet tidak akan tahan lama meskipun keberadaan zat pengawet pada vaksin itu secara statistik sering menimbulkan masalah yang ditakuti meskipun belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Pertimbangan menggunakan vaksin dengan bahan pengawet itu diambil karena manfaat perlindungan vaksin itu masih sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi banyak orang.

Imunisasi penting tetapi lebih utama adalah keadaan gizi anak. Kalau gizi anak baik dia akan merespon imunisasi dengan sangat baik. Dalam kondisi gizi jelek, respon anak pada imunisasi akan tidak ada. Respon buruk pada imunisasi karena kondisi gizi yang jelek tidak akan bisa diperbaiki dengan melakukan imunisasi ulang kecuali dengan memperbaiki kondisi gizi anak itu sendiri. Respon imunisasi yang baik hanya dapat diterima oleh keadaan gizi yang lengkap dan sempurna, tidak setengah-setengah. Lengkap dengan vitamin, mineral, dan unsur-unsur penting gizi lainnya.

Jika ada anak yang belum pernah diberikan imunisasi ternyata terserang penyakit itu.  Apakah anak itu masih perlu untuk diberikan imunisasi? Seorang anak yang sudah terserang penyakit tidak perlu diberikan vaksinasi. Anak yang sudah diberikan vaksinasi juga tidak dijamin terlindung 100%.  Dokter sering dikomplain oleh ibu pasien yang anaknya terserang tipus meskipun anak itu sudah divaksinasi.  Kadang-kadang dalam kondisi tertentu ketahanan kuman akan sangat prima sehingga mampu menyerang tubuh orang yang sehat. Atau kemungkinan strain kuman yang menyerang sudah mengalami mutasi dibandingkan dengan vaksin yang diberikan pada saat imunisasi. Vaksin yang diberikan oleh dokter maupun oleh bidan di pos yandu tidak berbeda.  Perbedaannya hanya jika imunisasi dilakukan oleh dokter, pasien akan lebih banyak mendapatkan keterangan lebih rinci dibandingkan di pos yandu.

Keadaan kesehatan saat ini banyak dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor lingkungan terutama sangat mempengaruhi kesehatan masyarakat kota karena polusi, zat-zat racun untuk serangga, zat pengawet, dan sebagainya. Keadaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan imunisasi.  Keaadaan lingkungan juga sangat mempengaruhi kuman, sehingga meskipun sudah dilakukan vaksinasi tetapi karena strain kuman sudah berubah karena lingkungan, maka vaksinasi itu tidak mampu lagi melawan serangan kuman yang sudah berubah itu.


Pembuatan vaksin yang mutakhir tidak mampu mengikuti perubahan strain kuman sehingga mampu menghasilkan vaksin yang mutakhir.  Vaksin yang dihasilkan saat ini umumnya merupakan vaksin dari kuman yang belum berubah padahal karena kondisi lingkungan yang buruk perubahan atau mutasi kuman itu sangat cepat terjadi. Seringkali vaksin yang dibuat juga berasal dari kuman yang berbeda dari negara lain sehingga memberi efek berbeda jika dipergunakan untuk kuman di negara kita.  Di negara berkembang penelitian untuk perubahan kuman masih sangat kurang. Begitu juga obat-obatan yang diberikan, seringkali tertinggal jauh oleh perubahan dari kuman itu sendiri. Oleh karena itu, untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat itu, maka yang paling utama adalah keadaan gizi dan tumbuh kembang anak. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar