IMUNISASI MEMANG PENTING
tetapi bukan segala
Oleh: Ayodya Lakshmidevi
Imunisasi memang penting tetapi bukan
segala-galanya. Bagi anak yang paling
penting didahulukan adalah perbaikan gizi.
Imunisasi bisa ditunda.
Kadang-kadang yang ditakuti orang tua pada imunisasi adalah panas badan
anak akan naik. Imunisasi bisa membuat anak malas makan. Kalau gizi anak kurang
baik, sebaiknya sebelum dilakukan imunisasi gizi anak harus diperbaiki lebih
dahulu. Imunisasi bisa belakangan. Akan
tetapi jika gizi anak bagus imunisasi bisa langsung dilakukan dan tidak perlu
ditunda.
Pertimbangan untuk tidak melakukan
imunisasi pada anak juga dapat ditelusuri riwayat kesehatan anak itu. Kalau seorang anak mempunyai riwayat
kejang-kejang bila terkena panas, maka imunisasi yang dapat menyebabkan panas
perlu dipertimbangkan. Meskipun ada imunisasi yang tidak menimbulkan panas
tetapi setiap imunisasi tidak menjamin tidak disertai panas badan pada anak.
Petunjuk imunisasi sesuai jenis vaksin dan
umur anak, yang seringkali diberikan pada ibu dapat dipakai sebagai batasan
untuk anak memperoleh imunisasi. Tetapi
petunjuk imunisasi itu tidak perlu terlalu kaku diterapkan. Bagi anak dengan gizi sudah bagus, imunisasi
tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi anak dengan gizi kurang bagus maka
imunisasi bisa menjadi masalah sehingga sebelum dilakukan imunisasi perlu
dilakukan perbaikan gizi. Apalagi jika anaknya agak sulit makan sehingga
badannya kurus kering, maka imunisasi mungkin bukan kebutuhan pokok. Meningkatkan nafsu makan anak agar memiliki
gizi baik adalah hal penting yang harus diperhatikan.
Imunisasi yang dilakukan tidak sesuai
dengan petunjuk yang dilakukan tidak menjadi masalah. Imunisasi yang tidak lengkap pun tidak
apa-apa. Imunisasi diberikan harus dengan mempertimbangkan kondisi anak.
Meskipun hal itu sangat sulit dilakukan jika imunisasi diadakan secara masal.
Berbeda dengan imunisasi yang dilakukan secara perorangan atau di rumah
sakit. Dokter akan selalu
mempertimbangkan keadaan gizi anak sebelum imunisasi.
Kesulitan untuk memeriksa kondisi anak juga
bisa terjadi di pos yandu, kecuali di sana tersedia dokter yang memeriksa anak
sebelum imunisasi. Di pos yandu seringkali bisa dilakukan imunisasi secara
langsung melalui bidan atau kader yang akan melakukan imunisasi sesuai dengan
petunjuk umur dan jenis imunisasi yang akan diberikan.
Yang perlu diperhatikan bagi anak adalah
pertumbuhan dan perkembangan, serta keadaan gizi, imunisasi adalah pendukung
setelah tumbuh kembang terpenuhi secara baik. Imunisasi bisa efektif untuk
membentuk antibody jika kondisi tubuh secara optimal sehat. Antibodi sebagai pertahanan tubuh tidak harus
terbentuk melalui imunisasi, tetapi juga bisa secara alamiah atau silent
infection yang bisa tidak menimbulkan sakit. Imunisasi adalah infeksi buatan yang
bertujuan untuk membentuk antibody dalam tubuh.
Seorang anak sakit karena telat dilakukan
imunisasi seringkali diartikan salah.
Setelah imunisasi bisa saja seorang anak terserang sakit, tetapi tanpa
imunisasi pun seorang anak bisa tahan terhadap suatu penyakit karena dirinya
sudah membentuk antibody karena silent infection.
Di sekitar kita banyak sekali bakteri dan
virus yang dapat menyebabkan sakit. Jika
semua penyakit akan dibuatkan vaksin akan banyak sekali vaksin yang diberikan
pada anak melalui imunisasi. Akan ada
ribuan vaksin dan mungkin sepanjang hidup kita akan menjalankan imunisasi. Kondisi kesehatan masyarakat yang semakin
baik akan memberikan perlindungan sendiri.
Infeksi ringan akan membentuk kekebalan
pada tubuh kita sehingga tidak semua bakteri atau virus perlu dibuatkan vaksin.
Beberapa kuman yang memang sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kematian
memang perlu dibuat vaksin untuk imunisasi.
Misalnya wabah cacar yang saat ini sudah hampir tidak ada. Untuk
imunisasi hepatitis misalnya tidak perlu harus diberikan secara dini. Seorang anak selain keadaan gizi yang harus
prima, sebaiknya tubuh anak diberikan kesempatan agar bisa secara alami melawan
penyakit yang masuk ke dalam tubuh.
Di dalam vaksin juga ada zat pengawet
tibarasol? Yang saat ini sering menimbulkan kontroversi. Vaksin tanpa pengawet tidak akan tahan lama
meskipun keberadaan zat pengawet pada vaksin itu secara statistik sering
menimbulkan masalah yang ditakuti meskipun belum dapat dibuktikan secara
ilmiah. Pertimbangan menggunakan vaksin dengan bahan pengawet itu diambil karena
manfaat perlindungan vaksin itu masih sangat dibutuhkan dan bermanfaat bagi
banyak orang.
Imunisasi penting tetapi lebih utama adalah
keadaan gizi anak. Kalau gizi anak baik dia akan merespon imunisasi dengan
sangat baik. Dalam kondisi gizi jelek, respon anak pada imunisasi akan tidak
ada. Respon buruk pada imunisasi karena kondisi gizi yang jelek tidak akan bisa
diperbaiki dengan melakukan imunisasi ulang kecuali dengan memperbaiki kondisi
gizi anak itu sendiri. Respon imunisasi yang baik hanya dapat diterima oleh
keadaan gizi yang lengkap dan sempurna, tidak setengah-setengah. Lengkap dengan
vitamin, mineral, dan unsur-unsur penting gizi lainnya.
Jika ada anak yang belum pernah diberikan
imunisasi ternyata terserang penyakit itu.
Apakah anak itu masih perlu untuk diberikan imunisasi? Seorang anak yang
sudah terserang penyakit tidak perlu diberikan vaksinasi. Anak yang sudah
diberikan vaksinasi juga tidak dijamin terlindung 100%. Dokter sering dikomplain oleh ibu pasien yang
anaknya terserang tipus meskipun anak itu sudah divaksinasi. Kadang-kadang dalam kondisi tertentu
ketahanan kuman akan sangat prima sehingga mampu menyerang tubuh orang yang
sehat. Atau kemungkinan strain kuman yang menyerang sudah mengalami mutasi
dibandingkan dengan vaksin yang diberikan pada saat imunisasi. Vaksin yang
diberikan oleh dokter maupun oleh bidan di pos yandu tidak berbeda. Perbedaannya hanya jika imunisasi dilakukan
oleh dokter, pasien akan lebih banyak mendapatkan keterangan lebih rinci
dibandingkan di pos yandu.
Keadaan kesehatan saat ini banyak
dipengaruhi oleh banyak faktor, faktor lingkungan terutama sangat mempengaruhi
kesehatan masyarakat kota karena polusi, zat-zat racun untuk serangga, zat
pengawet, dan sebagainya. Keadaan itu tidak bisa dijawab hanya dengan
imunisasi. Keaadaan lingkungan juga
sangat mempengaruhi kuman, sehingga meskipun sudah dilakukan vaksinasi tetapi
karena strain kuman sudah berubah karena lingkungan, maka vaksinasi itu tidak
mampu lagi melawan serangan kuman yang sudah berubah itu.
Pembuatan vaksin yang mutakhir tidak mampu
mengikuti perubahan strain kuman sehingga mampu menghasilkan vaksin yang
mutakhir. Vaksin yang dihasilkan saat
ini umumnya merupakan vaksin dari kuman yang belum berubah padahal karena
kondisi lingkungan yang buruk perubahan atau mutasi kuman itu sangat cepat
terjadi. Seringkali vaksin yang dibuat juga berasal dari kuman yang berbeda
dari negara lain sehingga memberi efek berbeda jika dipergunakan untuk kuman di
negara kita. Di negara berkembang
penelitian untuk perubahan kuman masih sangat kurang. Begitu juga obat-obatan
yang diberikan, seringkali tertinggal jauh oleh perubahan dari kuman itu
sendiri. Oleh karena itu, untuk menghadapi perubahan yang sangat cepat itu,
maka yang paling utama adalah keadaan gizi dan tumbuh kembang anak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar