Home | Keluarga | Cinta Sunnah | Cerita Anak | Galeri

Senin, 10 Maret 2014

Ayodya Lakshmidevi: Active Fathering, Mengapa Tidak?



Active Fathering, 
Mengapa Tidak?
oleh: Ayodya Lakshmidevi


Seorang bayi yang menginjak usia enam bulan sudah bisa meraih mainannya di lantai. Kadang si kecil akan berusaha lebih keras lagi untuk lebih dekat dengan mainannya yang lain. Melihat itu, naluri ibu yang muncul pertama kali adalah memindahkan mainannya agar lebih mudah dijangkau si kecil. Sedangkan sang ayah akan membiarkan si kecil terus berusaha sendiri agar bisa meraih mainannya. Pada saat itu ibu akan berpikir mungkin si kecil akan menjadi frustrasi dan perlu dibantu. Tetapi lain halnya dengan sang ayah yang berpikir, si kecil harus bisa berusaha sendiri dan belajar dari usaha yang dilakukan, walau hasil akhirnya bisa baik ataupun tidak.

Ilustrasi seperti itu banyak dilakukan oleh sebagian orangtua. Menurut Anda, mana yang lebih baik? Cara ayah atau cara ibu? Sebenarnya Anda tidak perlu memilih mana yang lebih baik. Karena dari hasil riset menunjukkan bahwa anak akan belajar dengan baik sesuai cara orangtua mendidik mereka, walau dengan cara berbeda. Kadang ayah dan ibu memberikan cara berbeda saat memberikan perhatian dan kasih sayang. Perbedaan tersebut tidak akan membuat bayi merasa bingung. Justru dengan perbedaan itu, mereka bisa belajar bahwa mereka bisa mendapat perhatian dari orang-orang yang berbeda pula. Walau cara ayah dan ibu cukup berbeda, tetapi keduanya memiliki kesamaan, yaitu mereka akan menyayangi bayi-bayinya secara emosional dan juga memberikan kebutuhan fisik yang bayi butuhkan.

Anak-anak yang sering terlibat dengan ayah seringkali memiliki bagian-bagian perkembangan tertentu yang lebih baik dibandingkan mereka yang kurang terlibat dengan ayah. Mereka menjadi lebih pandai dalam hal pemecahan masalah dan bisa mengatasi rasa frustrasi, memiliki kemampuan bersosialisasi lebih baik, lebih mudah memahami perasaan orang lain, dan mudah bergaul dengan beragam individu. Peran ayah yang aktif juga berperan dalam menumbuhkan sifat humoris anak, perhatian dan keinginan besar untuk bereksplorasi dan belajar.

Peran ayah
Walau ayah dan ibu sama-sama memiliki kemampuan untuk belajar merawat atau mengasihi anak-anaknya, namun biasanya sang ibu adalah pemegang peran yang lebih utama. Ada beberapa hal yang menyebabkan hal ini terjadi, antara lain:

# Pria, seringkali kurang berpengalaman dengan anak-anak, ketimbang wanita. Dalam masyarakat, wanita berlatih cara merawat anak seiring dengan kehidupan, seperti layaknya merawat adiknya saat masih kecil. Sedangkan anak atau remaja laki-laki seringkali tidak memiliki kesempatan itu. Itu sebabnya, ada beberapa pria yang sering merasa tak nyaman dengan masalah tersebut atau kurang terampil dalam hal merawat anak-anak.

# Pria cenderung tidak merasakan tekanan sosial layaknya wanita saat belajar merawat anak-anak mereka sendiri. Jadi, mereka sering mencari bantuan dari kerabat keluarga, teman dan sumber-sumber lainnya agar keterampilan parenting mereka bertambah.

# Karena wanita lebih banyak terlibat dalam parenting, maka mereka akan semakin mahir dan mungkin akan menyadari bahwa sang ayah tidak kompeten dalam hal yang sama. Jika hal ini terjadi, pola tertentu akan mulai terbentuk, sehingga sang ibu akan melakukan hal yang lebih banyak, belajar lebih banyak, merasa lebih yakin, dan merasa bertanggungjawab secara kontinyu terhadap anak-anaknya. Sedangkan sang ayah dalam kondisi ini akan belajar lebih sedikit dan merasa kurang mampu untuk merawat anak-anaknya setiap hari. Bila pola tersebut semakin menguat, sang ibu akan merasa terbebani, ayah akan merasa tidak ‘dianggap’ dan anak-anak pun akan kehilangan kasih sayang dari dua orang yang mereka sayangi.

# Berbagai realita sosioekonomi bisa membuat peran ayah menjadi tantangan tertentu. Dalam orang tua tunggal (single-parent) dan orang tua yang bercerai, banyak ayah yang tidak tinggal bersama dengan anak-anaknya. Sedangkan dalam keluarga lainnya, wanita dan pria seringkali dihadapi berbagai tekanan baik dari ekonomi, beban pekerjaan yang seringkali mengganggu jadwal kebutuhan anak-anak mereka. Sedangkan bagi sebagian besar pria, situasi kehidupan seperti ini sering membuat mereka semakin sulit untuk menghabiskan waktunya bersama anak-anak.

Yang terbaik untuk keluarga
Walau sang ayah mengalami banyak tantangan dalam hal perawatan anak-anaknya, hal ini sebenarnya bisa diatasi, dibantu dan didukung pasangannya. Ada banyak cara agar ayah dan ibu bisa berbagi, bekerjasama, dan menjadi orangtua efektif dalam merawat dan mendidik anak-anak. Coba ikuti beberapa tips di bawah ini, agar Anda bisa siap berbagi tugas.

# Libatkan ayah sambil belajar melakukannya (learn by doing). Keterampilan parenting bisa diperoleh sambil melakukannya, dan mungkin pria akan merasa malu atau kurang kesempatan agar bisa berpengalaman dalam hal ini. Seawal mungkin ayah memulai dan sebanyak mungkin hal yang bisa dikerjakan, maka lambat laun akan membuat ayah semakin merasa nyaman dan kompeten. Memang pertama kalinya, Anda akan merasa kurang kompeten, tetapi dengan berjalannya waktu, bayi pun bisa menjadi guru Anda.

# Pria maupun wanita bisa menjadi orangtua yang efektif dalam berbagai hal. Baik perbedaan maupun persamaan antara kedua orangtua sangat bermanfaat bagi anak. Anda perlu ingat bahwa ada berbagai cara membesarkan anak dan bagaimana cara agar anak Anda pun bisa merasakan manfaatnya.

# Setiap orangtua memerlukan kesempatan atau waktu untuk mengembangkan jalinan kasih sayang dengan anak-anaknya. Sebagian besar orangtua akan belajar ‘seni’nya menjadi orangtua lebih baik saat sedang mandiri atau tidak memiliki siapa pun untuk merawat. Luangkan waktu bersama bayi, jaga agar bisa meminimalisasi berbagai bentuk instruksi, dan percaya pada pasangan untuk belajar sambil bekerja.

# Menjaga hubungan dengan pasangan agar tetap kompak. Riset menunjukkan bahwa pasangan suami isteri yang kompak dapat membantu keterlibatan peran ayah.

#####

Tidak ada komentar:

Posting Komentar